Rabu, 19 Desember 2012

DOBRAK UNRAM



DOBRAK   UNRAM
OLEH ZAINAL  ASIKIN

PENGANTAR
UNRAM   DAN  PROBLEMNYA
STAGNAN  KONSERVATIF  , KURANG DARAH   ITULAH  PENILAIAN  ORANG SAAT INI TENTANG  UNRAM.    MAKA  UNRAM MEMBUTUHKAN SEMANGAT   DENGAN ISTILAH  RIXON  SEBAGAI   Konstruktif   TRANSGRESIF   ATAU OLEH  DERIDA  DISEBUT SEMANGAT  DEKONSTRUKTIF.
UNRAM  TIDAK  MEMBUTUHKAN  REKTOR  YANG PINTAR.  UNRAM  TIDAK MEMBUTUHKAN REKTOR YANG  BANYAK GELAR.   YANG DIBUTUHKAN UNRAM    REKTOR YANG  CERDIK MENGATASI  PERSOALAN,  REKTOR YANG  LIHAI MENCARI UANG BUKAN HANYA MENGHABISKAN UANG YANG SUDAH ADA.   REKTOR YANG TEGAS TAPI TIDAK KAKU DAN TIDAK RAGU,  REKTOR YANG CEPAT  MENGAMBIL  KEPUTUSAN TAPI BUKAN  NGAWUR,  REKTOR YANG  PUNYA RASA  EMPATI   ATAS KESULITAN  FAKULTAS DAN PROGRAM STUDI, BEREMPATI KEPADA KESULITAN MAHASISWA.
UNRAM  BUTUH REKTOR YANG  BISA MEMBAYAR HONOR  TEPAT WAKTU  BUKAN BERBULAN BULAN,   UNRAM BUTUH REKTOR YANG INTERPRENUR, GESIT , PROGRESIF DAN PANDAI  MEMECAHKAN MASALAH, BUKAN   MELAHIRKAN   MASALAH.
OLEH KARENA ITU KEDEPAN  UNRAM  HARUS DIPIMPIN OLEH REKTOR YANG  BERANI  , TAPI BUKAN NEKAD.  UNRAM MEMBUTUHKAN REKTOR  YANG PUNYA GAGASAN, BUKAN  YANG  BANYAK ALASAN.
REKTOR  HARUS PUNYA PLANING YANG  PROGRESIF,  BUKAN PLIN PLAN  DAN  DEPRESIF.   AYO  SIAPA BERANI ?    SAYA MENANTANG  ANDA
SEPERTI  KATA   KAHLIL  GIBRAN DALAM  JIWA JIWA  YANG MEMBERONTAK   :
          Aku..adalah diri,  diri yang  berfikir  ; diri  yang suka  berangan angan;   diri kehausan  dan kelaparan;   dan diri yang  ditakdirkan  berjalan  terus  menerus tanpa istirahat, mencari apa  yang belum  dikenal dan  apa  yang belum  diciptakan.
          Adalah  aku,   bukan  kalian. Yang  akan  memberontak  !
Dan  kukatakan bahwa hidup itu memang  kegelapan ;  kecuali kalau ada dorongan ;   Dan semua dorongan  itu  buta, kecuali  ada pengetahuan ;
Dan  semua pengetahuan  sia sia, kecuali  ada pekerjaan ‘
Dan semua pekerjaan kosong , kecuali ada cinta ;
Dan ketika bekerja dengan cinta,  kamu  mengikat dirimu  kepada dirimu sendiri
Dan   kepada  satu sama lain  dan kepada Tuhan.
Dan jika  kamu  bekerja tidak dengan cinta,  tapi  dengan rasa tidak  suka,
Lebih baik tinggalkan pekerjaanmu, dan duduklah di gerbang kuil………
Mintalah sedekah kepada mereka yang bekerja dengan gembira.

DAN  SAYA AKAN MENGAJAK   ANDA BEKERJA  DENGAN GEMBIRA
         









PERTAMA
Nama Unram tersandera  karena Kasus HUKUM   dalam masalah pembangunan Rumah Sakit Pendidikan  yang menyeret PT.DGI.   Kasus lain kini masih belum tuntas adalah kepastian “ hak “ Unram atas  SD /TK Model yang kini bermasalah dan Unram terancam kehilangan lahan.  Ini harus dituntaskan demi menjaga nama baik dan kredibiltas Unram.

KEDUA

LAMBANNYA  PELAYANAN  SECARA  ADMINISTRATIF MENGAKIBATKAN  PELAYANAN UMUM, PUBLICT SERVICE  DAN  PELAYANAN KEPADA  HAK HAK PEGAWAI DAN DOSEN TERBENGKALAI.   HAL INI KARENA  AKIBAT LEMAHNYA  KEMAMPUAN  JAJARAN  REKTORAT .   BAYANGKAN  UNTUK  MENERBITKAN SURAT KEPUTUSAN (SK, )  KEPANTIAAN, SK  Mengajar  UNTUK  DASAR PEMBAYARAN  GAJI DAN HONORARIUM  HARUS MENUNGGU  2  sampai  3  BULAN.   Akibatnya banyak dosen merasa dizalimi, dan keringat dosen sudah 2 kali kering baru honornya bisa dibayar.

TIGA
LEMAHNYA  pelayanan administrasi  dan  keuangan  di Rektorat     MENJADIKAN  UNRAM SEBAGAI  INSTITUSI YANG SANGAT BURUK  DALAM  MEMBERIKAN PELAYANAN LAINNYA.   ADA KECENDRUNGAN PARA PEMBANTU  REKTOR TIDAK MEMAHAMI “  BATAS   ANTARA  DELEGASI  DAN MANDAT “ SEHINGGA SERINGKALI DISPOSISI  REKTOR  TERBANTAH ATAU DIANULIR DI TINGKAT  PEMBANTU  REKTOR.
EMPAT
TIDAK  JELAS  KEBIJAKAN TERHADAP PENGEMBANGAN dan PERENCANAAN   UNRAM KE DEPAN SECARA  LEBIH LOGIS DAN RASIONAL.    ADA  FAKULTAS  YANG SANGAT  MEMBUTUHKAN  RUANG BELAJAR DAN  FASILITAS LAINNYA.  AKAN  TETAPI SEKONYONG  KONYONG   UNRAM  MEMBUAT GEDUNG  TEHNOLOGI  PERTANIAN   YANG BELUM ADA MAHASISWANYA

LIMA;
PROYEK  PROYEK DI UNRAM SELALU  BERMASALAH DAN SELALU TERLAMBAT TERSELESAIKAN. KARENA LEMAHNYA  STAF BAIK DI LEVEL  PINPRO (PPK)  SEHINGGA  PROYEK HARUS DIMULAI BULAN SEPTEMBER  DAN SELESAI BULAN DESEMBER. SESUATU  YANG TIDAK MUNGKIN TERSELESAIKAN DALAM WAKTU  3 BULAN.

ENAM
KELEMAHAN DAN KERAGU RAGUAN PADA PIMPINAN  UNIVERSITAS DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN MENYEBABKAN TIDAK ADA KEPASTIAN DALAM  MENENTUKAN  KEBIJAKAN PENGEMBANGAN UNRAM,  SERINGKALI KEPUTUSAN  SENAT, KEPUTUSAN RKU, DLL  BERUBAH KARENA ADA DESAKAN MAHASISWA.

TUJUH
JAJARAN  REKTORAT
TIDAK MEMILIKI SEMANGAT INOVASI DAN KREATIFITAS  UNTUK  MENGEMBANGKAN  PUSAT BISNIS YANG BISA MENDATANGKAN  REVENUE GENERATING.   LAHAN UNRAM DI JALAN PENDIDIKAN LEBIH BANYAK TERKESAN SEBAGAI  HUTAN BELANTARA KETIMBANG SEBUAH  KAMPUS.
 BANYAK LAGI   LAHAN LAHAN UNRAM YANG TIDAK TERGARAP SECARA PROFESIONAL.     AUDITORIUM  DAN ARENA BUDAYA  TIDAK PERNAH MENGALAMI  RENOVASI   AUDIO  YANG LAYAK UNTUK DIKEMBANGKAN SEBAGAI TEMPAT SEMINAR DAN RESEPSI.

TAHUKAH ANDA  ?
BERAPA ASSET UNRAM YANG TERSEBAR DIMANA MANA, TETAPI HASILNYA TIDAK PERNAH DILAPORKAN.
TAHUKAH ANDA ?
KITA AKAN KEHILANGAN  ASSET BERUPA TANAH DAN GEDUNG DI ATAS SD BERTARAF INTERNASIONAL DI SEGANTENG AKIBAT  KEBIJAKAN  YANG SALAH !

SEMUA PERSOALAN DI ATAS  KURANG  MENDAPAT PENYELESAIAN  SECARA TUNTAS DAN  SANGAT  MENGGUSIK DAN  MENGANCAM  MASA DEPAN UNRAM.


(SATU)
MENUJU  UNRAM
YANG  DEKONSTRUKTIF,  PROGRESIF-TRANSGRESIF

Istilah  itu  coba  saya  perkenalkan bagi para pemikir Unram yang sedikit   lebih  berpikir  normative – positivis.    Kenapa   petinggi  Unram  terlihat  seperti  para pemikir   positvisme karena terlihat  dari cirri  ciri  positivism  yang cenderung  kaku dan lamban, kurang respon atas perubahan.
Jika  digambarkan dengan   tubuh   manusia, bahwa  Unram ini bagaikan orang yang gemuk, perut   besar, tidak kuat   jalan  dan napas pendek (terengah engah jika   berjalan ).  Oleh sebab itu mau di apakan saja selalu  terlambat   karena  sulit  bergerak dan  males  malesan.
Kaum  positivis   lebih  cendrung  terima   beres  dengan  teks teks  yang    sudah ada,  yang  penting  sudah ada perencanaan ,   tidak perduli  ada  manfaatnya  dan memenuhi  rasa keadilan. 
Karena itu  maka  persoalan    eksekusi “   perencanaan  bukan soal, apakah  nantinya  bisa memperoleh dukungan  atau  tidak, itu tidak penting.    Sekumpulan  orang “ positivis “  biasanya  males  berfikir, cendrung  setuju .   Males  berfikir  karena  bermacam macam  sebab  antara  lain    karena  pikiran  sedang  ruwet, tidak  mau tahu  atau  memang   benar  benar  tidak  tahu.
Orang  orang positivis berfikirnya  cenderung sekedar  konstruktif, maka  diperlukan  “ dekonstruktif “.   Orang  Positivis kecendrungan   formalitas  maka diperlukan  restorasi  berfikir  ,   bukan gerombolan pengekor.  
Untuk  itu maka  ke depan  Unram  harus  keluar  dari  cara  berfikir Positivisme  oleh pemimpin  yang positivism.   Maka  ke depan  Unram  harus  melakukan   restorasi  ,  dekonstruksi,  progresif   transgresif “.
Pemimpin Unram   kedepan harus  memikirkan apa yang tidak  terpikirkan,  merencanakan sesuatu  yang mengandung  kebaruan atau  oleh Jack Reynold disebut “ self  referential paleaonimi “,  mengerjakan sesuatu  yang  luar biasa, bukan yang biasa biasa.
Itulah yang harus dilakukan jika  mau  menggapai standar internasional  ataupun go international.    Atau paling tidak itulah yang bisa dicapai untuk menggapai  ISO 9001:2008 ,adalah standar internasional yang mengatur tentang Sistem Management Mutu (Quality Management System). Dalam standar ini, sebuah organisasi dituntut untuk bisa merencanakan dan mengimplementasikan  berbagai aturan proses-proses dan sumber daya yang diperlukan untuk menjamin dihasilkannya produk dan pelayanan bermutu.
Pemimpin UNRAM kedepan adalah orang yang pinter nyari uang untuk membesarkan Unram  dan cerdas menggunakannya.  Saat ini. Jangankan mendatangkan uang, Masya Allah………untuk mengeluarkan uang yang sudah ada saja betapa susahnya , sampai sampai membutuhkan waktu 6 bulan untuk proses membayar honor mengajar dosen S2  dan Non Reguler,   Innalillah…..kurang lebih 20 %  dana Unram tidak bisa terserap dan harus dikembalikan.  Sampai sampai  Unram harus membentuk “ Team Percepatan Penyerapann Anggaran “  yang diketuai oleh Dekan Tehnik.  Inilah team satu satunya didunia, saking bodohnya kita memakai uang maka dibentuk agar cepat makai uang ?   Siapa yang tolol, siapa yang bodoh, lho kok makai uang saja ndak bisa padahal  kami ini masih butuh uang ?
Para Pengelola, Unit ( Dekan, Ketua Program Non Reguler, Ketua Magister)    hampir    mengemis meminta  dicairkan dana,  meminta dibelikan prasarana proses belajar  mengajar ( LCD, Laptop, dll)  , tapi begitu  susahnya.
Suatu  kali   di  Bulan  Nopember  2012  saya disurati  oleh  Universitas, agar  mengajukan  usulan pencairan honorarium staf pengajar bulan Juni 2012.  Padahal    saya sudah mengajukan 4 Bulan yang lalu (sekitar bulan Agutus).   Akhirnya saya datang dengan membawa  arsip ke Unram…..lalu dijawab “   maaf  pak Surat Bapak Terselip. “.   Hahahahahahahaahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Betapa mudahnya Rektorat mengatakan “ maaf surat bapak hilang, maaf surat  bapak keselip, maaf,  surat bapak masih dicari, maaf  surat bapak menunggu disposisi, dsb dsb……yang  kata maaf itu  harus kami tunggu sampai 5 Bulan ?
Lembaga  sebesar Unram  dengan  Pembantu Rektor bidang administrasi dan keuangan adalah seorang pakar (doctor ekonomi) masih kita jumpai menejemen amburadul ( istilah Prof Ahyar Sutaryono).  Mau kita apakan Unram ini jika hal seperti ini terjadi ?
          Kesimpulannya ke depan kita memang butuh pemimpin Unram yang bisa cari uang untuk  membuat  Fakultas Fakultas ini hidup  dan bergairah,    kita  butuh orang  mengerti penderitaan  bathin  dan  ketersiksaan rohani  pegawai dan  dosen  dari   belenggu  menejemen   dan   birokrasi  yang “ bau  kentut “   yang  membuat  kita pusing.


















(DUA)
UNRAM  DIKEPUNG   PEDAGANG KAKI LIMA

Anda bisa menyaksikan kampus Unram di Jalan Pendidikan terkesan kumuh , gelap, kotor, dan nyaris tidak mencerminkan tempat bercokolnya para intelektual.  Kondisi disebelah Timur  berdampingan dengan Kampus IAIN Mataram saat ini sudah mulai bermunculan kios   pedagang kecil yang “ nantinya akan menutup wajah Unram”.  Kondisi ini sudah berlangsung lama juga…ketika para pedagang kecil membuat lapak tempat berjualan di Jalan masuk dari arah Utara menuju kampus Unram yang berdampingan dengan ASRAMA MAHASISWA yang  kini sudah tertutup oleh Pedagang Kaki Lima.   
Salahkah mereka membuat Lapak atau Kios tempat berjualan ?  Tentunya tidak salah ,   karena kita memang tidak pernah mau memanfaatkan lokasi, jalan dan lahan pinggir kampus itu sebagai suatu tempat yang lebih produktif, misalnya membuka tembok tembok itu dan membuat  bangunan menghadap jalan, apakah bangunan Asrama, Kegiatan /Kantor?  sekretariat UKM./UKF atau toko toko  yang dikelola oleh Fakultas, Universitas, Koperasi, Unit Usaha Mahasiswa, atau oleh pihak swasta dengan pola bagi hasil “ Build Operate Transfer” sehingga   bisa menambah  pendapat Unram (revenue generating).

Apakah anda harus diam…melihat kampus dikepung dan ditutupi oleh Bangunan Pedagang  Kaki Lima ?

Kenapa selama ini Unram  diam ?  karena  pemimpin Unram tidak memiliki  pengetahuan, kemauan, keberanian dan kiat untuk melakukan  terobosann dalam  menjadikan  Unram  lebih produktif melalui bisnis dan kerjasama dengan swasta.   Pemimpin Unram selama ini hanya menunggu uang dari Pusat (APBN)  dan  dari SPP, Sumbangan Pembgangunan Institusional (SPI).
Unram tidak mau dan belajar dari  IPB, ITB, Universitas Brawijaya  yang kampusnya  megah dibiayai dengan Pola Build Transfers bekerjasama dengan swasta.  Unram tidak  pernah mau berlajar bagaimana  untuk tidak semata mata mengharapkan dana pusat yang baru dikucurkan kalau bIsa  bermain  mata.  

Brawijaya punya Hotel UB yang sangat strategis dan laris manis, UGM punya Gues Hous, UI Punya Gues Hous, IPB punya Supermarket…………dan   kita   hehe hehe punya kantin kantin kantin  kecil di masing masing fakultas  yang tidak layak untuk dibanggakan sebagai tempat makan para dosen dan karyawan, apalagi   tamu.  Akhirnya untuk melayani kebutuhan tamu tamu Unram yang makan,  kita harus memesan nasi kotak melalui  Catering Henny.
Coba   tuan  tuan hitung berapa Unram membayar  makan dan minum setiap tahun  untuk biaya rapat  rapat  melalui catering.   Tentunya cukup besar !   Seandainya Unram memiliki Restoran dan Rumah Makan sendiri makan tidak perlu Unram mengeluarkan terlalu banyak uang membayar catering.

Sudah waktunya Unram membutuhkian pemimpin yang memiliki semangat dan bakat interpreneur sehingga Unram harus dikelola tidak saja oleh orang yang pinter menghabiskan uang/anggaran…tetapi mencari uang.

Untuk  urusan memanfaatkan lahan ternyata IAIN Mataram lebih  cerdas dibandingkan Unram.   Lihat..bagaimana  IAIN secara sigap membangun  kios  kios di  sebelah Barat kampusnya  sehingga dengan demikian “ dapat mencegah kampus IAIN  dikeroyok bangunan PKL.








(TIGA)
KOMUNIKASI  UNRAM  DENGAN RAKYAT

Untuk urusan  komunikasi  Unram dengan Rakyat (NTB)  dirasakan masih  sangat kurang  bahkan  bisa dikatakan sangat memprihatinkan  . Masyarakat NTB  bahkan mungkin luar NTB  tidak pernah tahu kalau di kampus UNRAM terdapat segudang pakar (akhli). Masyarakat  NTB tidak tahu kalau di Unram ada hasil hasil riset yang sangat berguna masyarakat. Malahan ada yang bertanya Unram itu berada di mana ?     Pertanyaannya kenapa rakyat tidak tahu  ?

Jawabnya karena Unram tidak pandai bermain semiotika,  bermain dengan bahasa, bermain dengan logika,  bermain dengan fakta.  Bahwa segala informasi  itu harus disampaikan ke masyarakat.  Data dan informasi tidak pernah bisa  berjalan sendiri dan sampai ke tujuan tanpa sarana.

Oleh sebab itu sarana dan  prasarana yang dimiliki Unram untuk menyampaikan informasi segala sumber daya Unram teryata sangat minim, alat untuk mempublikasikas hasil penelitian Dosen dosen Unram sangat  terbatas  yaitu hanya jurnal jurnal yang diterbitkan oleh kampus  dan dibaca oleh kalangan terbatas ( itupun tidak terakreditasi).
Tengoklah beberapa kampus  lain mereka memiliki Radio Kampus, Memiliki Koran Kampus ( yang oplahnya besar), mereka punya station  Televisi Lokal, memiliki mobil pelayanan umum kampus dan sebagainya yang seluruhnya dipergunakan untuk publikasi, sosialisasi kegiatan kampus agar kampus dikenal oleh masyarakat sebagai tempat  berkumpulnya para akhli dan informnasi. 

 Pertanyaannya Kenapa Unram tidak melakukan terobosan dan membangun “ sarana prasarana sejenis itu ?   Jawabnya karena pemimpin kampus tidak memiliki instink dan semangat  yang prospektif untuk mengembangkan kampus sebagai  wadah komunikasi antara cerdik pandai dengan rakyat,  Pemimpin Unram hanya menjadikan Kampus sebagai menara gading yang tempatnya nun jauh di atas awan (berumah  di atas awan).  Hasil penelitin dosen hanya tersimpan di lemari LPPM dan Lemlit yang tahun demi tahun punah dimakan rayap.

Unram ternyata kurang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat karena ia mengisolir diri dari  rakyat yang membutuhkan.
  
Adalah sangat tolol dan bodoh jika Unram mengatakan untuk mendirikan perangkat Radio Kampus  FM  mahal .  Saya telah menawarkan kepada  Rektor Unram sewaktu saya menjadi Pembantu Rektor IV bahwa biaya untuk membuat Radio Kampus tidak lebih dari Rp,.400.000.000 ,-  Angka itu sangat kecil untuk ukuran kampus ketimbang hanya membuat pagar keliling kampus yang tidak bermakna yang   justru menjadikan  Fakultas sebagai sebuah kerajaan kerajaan kecil yang memisahkan   silaturahmi  antar kampus sehingga  membuat  mahasiswa  antar  kampus menjadi bermusuhan.

Namun  apa  yang  terjadi  ?
Kebodohan dan ketidak mengertian Unram akan arti pentingnya alat komunikasi  ( Radio,  Mobil Unit Pelayanan Masyarakat, dll), maka sampai selesai   masa   jabatan saya sebagai Pembantu Rektor usulan saya tidak pernah terealisir.  Dan akhirnya saya mendirikan  Radio Sendiri dibawah bendera PT. Vini Vidi Vici yang saat ini mengudara dan menghasilkan keuntungan yang lumayan ( yang sudah pasti pasti untungnya lebih besar ketimbang menjadi Ketua LPM yang banyak masalah ).

Sekali   lagi saya ingin katakan    bahwa jangan biarkan Unram terus menerus  menjadi  menara gading yang terasing dari rakyatnya akibat tidak memiliki  alat  komunikasi dan publikasi,

Oke kita lupakan dulu Radio, Televisi, atau apa saja yang oleh Pimpinan Unram dikatakan mahal,  Tapi paling tidak  ada cara lain agar Unram dikenal orang.

Pernah   suatu  kali  saya mengusulkan anggaran Pembantu Rektor IV untuk melakukan kerjasama dengan Perss ( Koran) dimana dalam  rencana anggaran   tersebut   saya  membuat  perencanaan agar setiap minggu secara bergantian  ada  Rubrik Kampus di Lombok Pos yang akan diisi oleh masing masing Fakultas   sehingga dalam 1 ( satu) tahun akan hadir wajah kampus Unram dengan para pakar dan mahasiswanya sebanyak 48 kali,
Lagi  lagi  usulan  saya itu  hilang entah kemana sehingga nyaris tugas   Pembantu   Rektor IV  sebagai  bidang  kerjasama adalah “ tidak memiliki anggaran “.
Tidak mengherankan  jika masyarakat bertanya pada suatu diskusi apakah memang   pakar  pakar di Unram tidak bisa menulis, sehingga tidak pernah ada tulisannya muncul di Lombok Pos ?

Saya katakan kepada mereka bahwa para pakar Unram sedang sibuk menghitung kredit point dan kredit koint sebagai dampak sertifikasi.
Nah untuk mengakhiri tema ini saya kembali   mengusik Unram dan calon pemimpin Unram agar menyadari   pentingnya  “komunikasi dan silaturahmi kepada masyarakat melalui sarana prasarana  yang  efektif “.   Keberadaan  wadah Radio Kampus,  Mobil Layanan Masyarakat, Koran Kampus, Kerjasama dengan  masmedia local harus menjadi prioritas  kedepan.






 
(EMPAT)
    PERTANIAN  LAHAN   KERING   ATAU  KEKERINGAN  LAHAN

          Saya  pernah membaca   himbauan Dekan Fakultas Pertanian ( Prof Dr Sarjan) kepada Pemerintah Daerah melalui Harian Lombok Pos, agar pemda memberikan peluang alumni Fakultas Pertanian menjadi PNS.

          Himbauan itu baik, tapi belum tentu   tepat. Sebab tugas kampus bukan menjadikan alumninnya pegawai negeri.  Tetapi kampus membekali mahasiswa untuk menjadi tenaga  yang kompetitif di tengah persaingan global.   Himbauan Prof Sarjan  adalah  mewakili persaan kampus pertanian dan alumni  yang kurang diperdulikan.     Sejatinya  bukan  level “ dekan “ yang  harus  berteriak ke Pemda,  tetapi itu adalah level Rektor, karena  rector adalah anggota Muspida Plus,  Dengan posisi  Muspida Plus maka dalam  kesempatan pertemuan dengan Pemda harusnya  Rektor menyampaikan itu  sebagai keprihatinan lembaga.   Tapi saya yakin  rektor tidak pernah bicara itu dengan Pemda, maka Prof Sarjan menumpahkan suara hatinya.
          Dan apa  yang disampaikan  oleh Dekan Pertanian  adalah sebuah  tamparan kepada Universitas (bukan kepada Fakultas Pertanian)  yang seolah  olah Unram  belum menjanjikan apa apa bagi  alumninya.   Maka tugas  rector adalah  menjadikan  Unram sebuah lembaga yang menjanjikan tanpa harus meminta ke Pemda.  
Maka   untuk menjadikan Unram  yang  menjanjikan  maka  alumni Unram haruslah  berkualitas,  maka kampus harus lebih banyak memberikan peluang dan kesempatan mahasiswa  melakukan  penelitian, menaklukan   alam dan lingkungan, menghasilkan temuan temuan yang bermanfaat bagi daerahnya,  melakukan aksentuasi dengan tantangan alam .
          NTB memiliki alam yang “ unik : karena sebahagian dipenuhi oleh tanah tadah hujan  istilah ilmiahnya  terdapat  lahan kering.  Untuk itu maka “  jurusan  lahan kering “ di Fakultas Pertranian adalah salah satu jurusan yang sangat mulia karena akan mampu melahirkan  hasil  riset  yang berguna untuk menaklukan “ lahan kering  “.
          Persoalannya mengapa Unram belum mampu menaklukan lahan   kering   NTB  dan belum melahirkan produk tanaman unggulan lahan kering, misalnya  durian lahan kering,  jagung lahan kering, ubi lahan kering, pisang lahan kering,  kurma  lahan kering,  dan semua produksi pertanian unggulan NTB yang bisa di ekspor ?  Seperti  salak pondoh Gunung Kidul,  Durian Bangkok, Jambu Bangkok  dan lain lain produksi Bangkok ?
          Jawabnya karena Unram tidak   memberikan kesempatan dan tidak   menyediakan biaya yang cukup bagi Fakultas Pertanian untuk melakukan kajian dan riset kearah itu.     Bagaimana mungkin Fakultas  Pertanian  bisa dituntut menghasilkan produk lahan kering, sementara mereka  tidak “ disediakan sawah atau perkebunan lahan kering sebagai tempat melakukan riset bagi mahasiswa Unram “.
          Akibatnya, mahasiwa Unram melakukan percobaan  pada tanah laboratoriumnya di lahan subur di Narmada, atau menggunakan lahan kampus sebagai tempat percobaan ( yang membuat kampus Unram di Utara menjadi semak belukar).\
          Sekali   lagi   jangan menyalahkan Fakultas Pertanian, tetapi ada   kesalahan pimpinan Unram yang “ lalai “ dalam memberikan dan membantu pengembangan sebuah Fakultas yang memiliki jurusan dan memilik para pakar untuk menerapkan Ilmunya.
Ke depan, persoalan itu   harus dihentikan.  Unram harus memberikan perhatian kepada Fakultas yang strategis agar alumninya   menjadi   interpeneur yang handal cerdas, ulet dan  sabar.
          Saatnya   Unram membeli lahan /sawah lahan kering di Lombok Tengah  atau Pulau Sumbawa sebagai laboratorium kampus.  Jangan berharap   pemberian pemerintah daerah yang tidak   jelas karena pemberian yang tidak jelas akan membuat kecewa  seperti   kasus tanah tanah pemberian Pemda Lombok Barat ke Unram. 

(LIMA)
KULIAH  KERJA   NYATA (KKN)  DAN LEMBAGA PENGABDIAN PADA MASYARAKAT (LPPM)

          Besar   kecilnya  kampus sebenarnya dapat dilihat dari seberapa  besar   perhatian  kampus   terhadap dunia penelitian, dunia pengabdiannya kepada masyarakat dan pengembangan akademis.
          Oleh sebab itu peran Lembaga Penelitian, Lembaga Pendidikan, Lembaga  Pengabdian kepada Masyarakat menjadi ujung tombak dalam mencapai visi dan missi  Universitas.
          Untuk itulah betapa kampus kampus lain di Jawa dan Sumatera memberikan perhatian dan biaya yang sangat besar kepada ketiga lembaga itu,
          Dalam suatu pertemuan sarasehan dengan seluruh ketua LPPM dan LPM di Bali tahun 2011, dan saya  menginap satu kamar dengan ketua LPM dari Jawa Tengah.  Kepadanya saya bertanya  berapa anggaran Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM)      ?   Dengan santainya dia menjawab bahwa  anggaran untuk LPM sebesar Rp. 3 Milyar.   Mendengar itu saya terharu karena Unram hanya memberikan LPPM hanya ( sekali lagi hanya) Rp, 60 juta setahun.  Nah kira kira untuk apa uang  60  juta setahun untuk sekelas  sebuah Lembaga di Perguruan Tinggi.   Tentu ada yang salah dalam menejemen  perencanaan, dan ada yang belum paham bahwa   ada   Surat  Sekjen  Dep Diknas bahwa anggaran LPPM  harus dialokasikan sebesar 5 % dari dana  PT,  Silahkan tuan tuan hitung  berapa dana Unram setahun  dan  kalikan 5 %, maka sebesar itulah secara   normative (hokum)  sebuah lembaga itu diberikan.  Kalau tidak maka selama ini kita telah mencoba melanggar hukum.
          Untung   teman  saya  itu  tidak  bertanya  kepada saya . berapa dana LPM Unram diberikan oleh rektorat.  Kalau ditanya, saya sudah siap siap menjawab bahwa dana yang saya terima 10 Milyar setahun, tetapi sering tidak habis saya pakai dan saya kebalikan ke Rektorat untuk keperluan jalan jalan ke Malaysia. Singapura, Belanda, Jepang.   Biar mereka tahu bahwa  kita  memang lagi  hobi jalan jalan dalam rangka promosi go internasional).  Meno Kek Juluk.
          Dengan dana Rp.60  juta  (atau tahun 2012 sekitar 80 juta) setahun maka “ Presiden Obama-pun  “ tidak akan bisa mengembangkan sebuah Lembaga ( Penelitian, Pengabdian dan Pendidikian di Unram). Sehingga ketika Rapat Tahunan Unram di Hotel  Jayakarta  tahun 2011 yang maha hebat itu,  Para petinggi Unram menyampaikan visi misi, Rentra dan Renop sampai tahun 2025 dengan semangat Go International.   Maka ketika giliran saya menyampaikan berbicara saya hanya mengatakan “ kita jangan bermimpi  Internasional jika dana Lembaga  Penelitian  Rp. 90 Juta dan LPM hanya Rp.60 juta “. Lebih baik kita mimpi beronani !  lebih nikmat.
          Dengan “ cekaknya “ dana itu membuat LPM kelimpungan dalam mengurus Kuliah Kerja Nyata (KKN).   Lebih lebih untuk melaksanakan program KKN  , para mahasiswa hanya membayar Rp, 150.000 untuk kegiatan pembekalan, honor pembimbing, monitoring, transportasi peserta.  Jumlah itu  tentunya jauh dari mencukupi untuk sebuah kerja 2  bulan.  
          Saya pernah mengajukan  2 usulan waktu Rapat Kerja Universitas   yaitu :
1.    Usulan Pertama   bahwa  biaya KKN  harus dinaikkan men jadi  Rp 250.000, karena biaya 150 ribu tidak mencukupi untuk biaya KKN,  Namun apa yang terjadi para pimpinan yang  terpelajar itu protes dan keberatan  dan meminta saya menghitung berapa sih idialnya biaya KKN menurut hitungan akhli ekomoi.  Maka sayapun kemudian meminta bantuan akhli ekonomi   menghitung dan dalam rapat berikutnya  saya membawa hasil hitungan  teman teman Fakultas Ekonomi.   Apa yang terjadi ?   Setelah saya menyampaikan hasil kajian Fakukltas Ekonomi bahwa biaya KKN yang ideal adalah Rp, 650.000  ( bandingkan dengan UNUD Rp.750,000 dan  UGM Rp. 1,5 juta).  Ternyata tidak satupun pimpinan yang memakai hitungan itu, padahal kami disuruh menghitung,  Kesimpulannya apa ?  Kesimpulannya bahwa biaya KKN tetap  Rp, 150,000.   Lho kalau hasilnya biaya KKN tidak naik, buat apa rapat berkali kali, dengan uang konsumsi berkali kali, dengan energy yang terkuras.  Betapa tidak efektifnya pimpinan Unram dalam memutus sebuah persoalan yang strategis.  Dalam bahasa Sasak, phenomena pengambilan keputusan yang muter muter yang tidak hasil disebut : IDDAH.  Seringkali rapat di Unram terjadi  “ IDDAH : naikkan SPP, didemo turun lagi……dan seterusnya….menjadi  waktu dan tenaga mubazzir.    Sekali lagi ini semua karena memang pimpinan Unram sering ragu, tidak tegas,  takut dengan bayangan.   Akibatnya banyak keputusan yang terlambat, stagnasi, dan vakum.
2.    Usulan Kedua bahwa mahasiswa yang mau  KKN  bebas biaya KKN  tetapi mahasiswa baru dikenakan tabungan KKN sehingga dengan menganut prinsip arisan maka  dana mahasiswa baru akan membiayai  KKN  mahasiswa lama  dengan biaya KKN yang ditabung itu.
Usulan saya ini sebenarnya sederhana dan cukup  populis   karena dengan “ bebas biaya KKN  bagi mahasiswa lama maka Unram akan populer dimata mahasiwa lama yang cendrung kritis dan demonstratif.    Hitung hitungan sederhanya jika mahasiwa baru berjumlah  8000  orang  dengan membayar tabungan KKN Rp, 100,000  (lebih murah dari biaya KKN di seluruh dunia) ,  maka dalam setahun akan terkumpul uang KKN di tabungan Rp. 800.000.000 ( delapan ratus juta rupiah).   Jika dalam setiap KKN  selama ini dana yang dibutuhkan hanya Rp, 200,000.000 maka setiap tahun akan terdapat  saldo Rp, 200 juta….dan jika saldo ini terus setiap tahun bertambah maka akan  ada dana abadi Unram puluhan milyar,

Tapi   lagi lagi usulan saya ini tidak pernah direspon, Kenapa ?   ya   karena  sebahagian pemimpin Unram terkadang  tidak  kuat mikir, ndak mau mikir, ndak mau pusing.     Unram lebih kuat mikirin   Koperasi   Pegawai   yang   hampir   bangkrut  atau mikirin  kandang  rusa yang ada di dalam komplek Unram.  
                  
     Oleh sebab ke depan Unram harus mulai dan mau memikirkan nasib Lembaga  Penelitian, Lembaga Pengabdian dan Lembaga Pendidikan sebagai ujung tombak kemajuan Unram dan barometer pencitraan Unram ke luar.    Harus ada upaya membuat Lembaga Lembaga itu bergairah dan tambah darah dengan memberinya obat perangsang berupa kucuran dana yang cukup,    Dan itu baru bisa terlaksana apabila Unram dipimpin oleh orang yang punya empati, nurani dan espektasi untuk membesarkan Lembaga.         























(ENAM)
PABRIK  GURU YANG  YANG   MENGHARU  BIRU

          Suatu saat saya berdiskusi dengan teman teman saya dari FKIP  yang bercerita tentang tugasnya yang maha berat  dan maha mulia , yaitu mendidik calon calon pendidik, calon  calon Guru, calon Cik Gu ( Bhs Malaysia) yang akan  menjadi harapan masa depan bangsa.
          Pendidikan harus di mulai dari lingkungan , demikian kata teori pendidikan.  Agama Islam  juga berkata demikian, bahwa  semua orang dilahirkan  suci, dan lingkungannyalah yang membuat mereka menjadi “ majusi “.
          Dalam teori hukum dikenal teori “ condition sine quanon “ dalam pemidanaan.  Orang  menjadi penjahat karena lingkungannya, dan perbaikan liungkunganlah yang paling utama agar orang bisa menjadi baik,.
          Mendidik guru yang berkarakter dan berwibawa tentunya harus dalam lingkungan pendidikan  yang  “ berwibawa dan manusiawi” agar kelak mereka akan menghargai kemanusiaan orang lain, agar menjadi insan yang berwibawa dan menjadi guru yang pernah merasakan dihargai.
          Kata teman teman saya dari FKIP bahwa fasilitas fasilitas ruangan kuliah di FKIP dirasakan sangat tidak manusiawi.  Dikatakan tidak manusiawi karena dengan ruangan yang sempit, sumpek, gelap,  panas (tanpa AC)---- membuat para dosen dan mahasiswa harus megap megap kepanasan sambil  berkipas kipas keringat yang beraroma “ ketiak jengkol  bercampur  minyak wangi Kenzo “.
           Mereka mengatakan , bagaimana mungkin kami bisa mengajarkan tentang lingkungan pendidikan yang sehat  jika calon guru tidak pernah mencontoh bagaimana ruangan sekolah yang sehat ( karena di tempat kuliahnya tidak sehat ).
          Keluhan dosen ini tentunya memprihatinkan, karena FKIP sebagai sebuah Fakultas yang paling banyak mahasiswanya, paling banyak uangnya, paling banyak prodinya, ---kemudian tidak mampu  dibantu untuk memiliki sarana dan prasaran pembelajaran yang manusiawi ?

          Ini berbahaya dan sangat menyedihkan !   Dan ini harus harus diakhiri,  Sudah waktunya traged “ Mesuji  versi Unram “ ini harus dikaji dan menjadikan FKIP sebagai tempat pabrik Guru yang bermartabat.   FKIP harus  memiliki cukup ruangan kuliah yang kondusif dengan seluruh sarana belajar yang memadai.  Dengan demikian barulah FKIP dapat dikatakan sekolah masa depan untuk masa depan.

Dan itu harus bisa dilakukan oleh  Rektor yang mengerti makna pendidikan humaniora, rector yang faham basic pendidikan karakter  dan memahami suka duka fakultas keguruan.


















(TUJUH)
AKREDITASI  TANPA  IMBALAN  ?

          Penyakit   Unram  selama ini adalah “  tidak pernah memberikan penghargaan ( reward_)  kepada sebuah unit yang berhasil  meraih prestasi tertinggi.
          Acapkali diberbagai pertemuan apakah Rapat Kerja Universitas maupun Rapat Senat Universitas,  Pimpinan Universitas  “ mendesak  bahkan memarahi para dekan “ agar bekerja lebih serius agar Program Studi  atau Fakultas bisa meraih prestasi  atau  Aktreditasi  sampai A.
          Namun dibalik “ desakan  dan kemarahan Unram “, pernahkan Unram berfikir bahwa untuk mengurus dan  mepresiapkan dokumen akreditasi dan kepanitiaannya memerlukan “ pendanaan “  ?
          Pengalaman saya sebagai  Pembantu  Dekan  I  dan Dekan di Fakultas Hukum Unram betapa  “ perhatian Unram kepada unit unit yang sedang berjuang untuk memperbaiki nasibnyan melalui pengadaan Jurnal Terakreditasi maupun  Akreditasi Fakultas  ternyata  cenderung tidak perduli.
          Akibat ketiadaan  dana untuk melakukan “ percepatan akreditasi itu “ maka  tidak mengherankan  perkembangan akreditasi Fakultas Fakultas di Unram sangat lambat,  bahkan sampai Tahun 2009  masih ada Fakultas yang tidak terakreditasi.
           Kemudian, bagaimanakah nasib program studi yang tekah berhasil meraih Akreditasi, apakah memperoleh penghargaan , bantuan atau reward agar   Fakultas itu dapat  tetap mempertahankan  prestasi terbaiknya ?
          Pengalaman yang   saya   alami bahwa betapa Fakultas Hukum   Unram  dengan kerja keras , pontang panting, lintang pukang  bekerja sekuat tenaga dengan dana yang minim mengupayakan agar  Fakultas Hukum Unram mempoeroleh Akriditasi A dan Magister Tarakriditasi B.   Tapi  apa  lacur, setelah memperoleh  status  terbaik, tidak ada satupun apresiasi Unram dalam memberikan penghargaan kepada unit ini,  Ruangan kuliah yang  terbatas,   ruangan dosen  seperti  Kapal Ferry yang  sempit dan tidak ada korsi sehingga acapkali ada  dosen yang harus berdiri tanpa tempat duduk , sarana prasarana  yang  mendukung  perkuliahan  sama sekali tidak  tersedia secara maksimal untuk “ mempertahankan nilai Akreditasi  A  itu “.
          Bangunan yang diusulkan empat tahun lalu ( Tahun 2009)  sampai saat ini masih “ mangkrak “  ditengah hiruk pikuk  proyek Unram di tempat lain yang tidak jelas siapa yang merencanakan .
          Pertanyaannya  . Masihkah kita mampu menghargai sebuah prestasi ?    Masihkah kelak kita mempertahankan prestasi itu jika daya dukung tidak  dipersiapkan dan diprioritaskan,
          Jawabnya  TIDAK !  Sekali lagi  TIDAK
           Sebab mempertahankan prestasi bukan semata mata tugas  Dekan,  Tugas Ketua Jurusan,  Tugas Ketua Bagian, Tugas Pegawai.  Tapi  mempertahankan prestasi dan akreditasi Fakultas adalah tanggung jawab  nakhoda Unram yang mampu memberikan “ solar atau BBM “  kepada Kapal  Induk dan Kapal Kapal pendukung dan sekoci bisa berjalan dan berfungsi.
          Rektor harus mampu mempersiapkan anggaran dan pembiayaan  yang  cukup kepada unit dan Fakultas agar memperoleh  prestasi  yang  baik dan mempertahankan prestasi itu secara gagah berani.
          Bahkan jadikan Unram atau Fakultas sebagai institusi yang berani di datangi oleh team asesor dan bahkan menantang asesor untuk menilai kualitas Fakultas.  Bukan sebaliknya, acapkali “ kita keringat  dingin  kalau  kedatangan  asesor karena takut  kalau asesor  memeriksa  ruang  dosen, ruang  baca Fakultas, ruang kuliah,  dan sebagainya yang masih kurang layak.  Tapi kita berusaha  bermain  sulap, jumpalitan, putar akal  agar semua ruangan  terkesan kondusif dan  labolatorium terkesan “ hebat “, dan semua terkesan asri  meskipun   sebenarnya  mark up  bagaikan wajah  janda tua yang dilipstick agar terkesan cantik dan bahenol dan layak jual.
          Nah kedepan.  Unram membutuhkan rektor yang perduli kepada nasib Fakultas dalam memperjuangkan  mutu dan kualitasnya dengan mempersiapkan dana dan biaya untuk seluruh aktifitas  akreditasi.
          Bung…Jangan mimpi seperti  hasil RKT di  Hotel Jayakarta tanggal 8  s/d  10 Desember 2012 yang  mencanangkan 50 %  program studi di  Unram Tahun 2015 akan memperoleh A  dan sisanya akan memperoleh B.
          Atau  justru akan terjadi sebaliknya  ?  yang memperoleh A akan menjadi B, dan yang memperoleh B akan menjadi C….karena  mempertahankan prestasi lebih sulit daripada meraih prestasi.   Untuk itu Unram butuh  penghargaan yang super perduli kepada program studi yang telah berhasil terakreditasi A dan B  untuk diberikan dana yang lebih besar.




















(DELAPAN)
LABOBARORIUM  YANG MAHAL   TIDAK  TERAKRIDASI

Pada  tahun 2005  saya pernah menjadi Team Independen Pemantau Dampak Lingkungan bersama para pakar disiplin lain di Unram yaitu Prof.Dr  Agil Al Idrus, Msi,  Dr Rosiadi Sayuti,  Dr Suryahadi,   Dr Karnan, Dr Mahruf.     Team ini diangkat oleh Gubernur NTB untuk melakukan kajian terhadap dampak lingkungan PT.NNT  yang saat itu diisukan kalau limbahnya ( Tailing)  mengandung zat yang berbahaya (mercury) dan mengancam keselamatan biota laut.
          Kerja team ini luar biasa, dan secara independen disediakan biaya untuk melakukan uji coba laboratorium dengan dana yang cukup besar.
          Ketika dalam suatu perjalanan ke Scofindo  Surabaya  dan Serpong Jawa Barat  untuk melakukan uji laboratorium,  salah seorang team  berkeluh kesah pada saya.  Seandainya  Laboratorium yang ada di Unram  telah terakraditasi , maka Team tidak perlu berangkat ke luar untuk melakukan analisis hasil ini, jika  alat  alat   labolatorium Unram sudah mampu melakukan uji lab  dengan alat alat yang dimiliki Unram. 
          Permasalahannya , mengapa setiap Uji Lab yang dilakukan PT.NNT atau perusahaan besar lainnya tidak memakai Laboratlorium Unram ?   Jawabanya sederhana, yaitu  Lab Lab Unram yang mahal itu tidak terakreditasi.  Padahal  sarat uji Lab  , baru diakui hasilnya jika dilakukan oleh Laboratorium yang terakreditasi.
          Belajar dari kasus di atas, dari sisi akademis Lab. Unram belum dipercaya  untuk  melakukan Uji  Lab yang diakui secara nasional oleh perusahaan besar yang membutuhkan analisis laboratorium.  Dampak ikutannya  bahwa Unram telah kehilangan sumber sumber pendapatan yang luar biasa besar jika Lab itu terakreditasi.
          Pertanyaannya, sampai  kapan kita harus membiarkan Lab Lab Unram hanya sekedar Lab yang lokalan ?   Tidak adakah menggelitik pimpinan Unram melakukan upaya memberdayakan Lab Lab Unram sebagai  salah satu institusi yang mendatangkan pendanaan bagi Unram.
          Di tengah persaingan dan globalisi, maka Unram sudah waktunya berfikir kritis, obyektif dan prospektif untuk mengangkat Laboratorium yang ada (yang ada di berbagai Program Studi dan Fakultas) menjadi laboratorium diakui secara nasional dan Internasional melalui upaya akreditasi Lab.
          Percuma kita memiliki Lab yang mahal dan canggih….tapi belum terakreditasi atau bersertifikasi.  Kalau Unram hanya sekedar punya Lab…maka nasibnya sama saja dengan lab lab  PTS bahkan Lab SLTA yang ada.



















(SEMBILAN)

MAHASISWA  BERJASA  TAPI DI  DROP OUT

          Unsur Tri   Dharma  Perguruan Tinggi adalah  Dosen, Karyawan  dan Mahasiswa.
          Dari sini jelaslah bahwa peran mahasiswa dalam turut serta memajukan kampus   sangat   strategis.  Keberadaan UKM, UKF, DPM dan BEM  haruslah menjadi  bagian  pengembangan  kampus.
          Unram membutuhkan mahasiswa, begitupula sebaliknya Mahasiswa membutuhkan Unram.   Sinergitas itu harus saling menguntungkan dan saling membawa manfaat.  Tidak boleh kehadiran mahasiswa merugikan dan mencoreng nama baik lembaga.  Begitupula sebaliknya,  tidak boleh  Unram merugikan mahasiswa yang berjasa dan mengangkat nama baik Lembaga.
          Kisah sedih dibawah ini adalah cermin bagaimana Pimpinan Unram dan pemangku kepentingan tidak pernah menghargai jasa mahasiswa dan tidak perduli nasib mahasiswa yang telah mengabdikan kemampuannya untuk almamaternya, Tapi Ironisnya mahasiswa tersebut harus di Drop Out !
          Salah seorang mahasiswa bernama Devin Sanjaya ( mhs bukan Fakultas Hukum Unram)  datang kepada saya mengadu tentang nasibnya yang diancam Drop Out karena “  nilai akademiknya tidak maksimal akibat sering meninggalkan kampus mewakili Unram dalam lomba lomba seni suara dalam tingkat local sampai Peksiminas ( dan berhasil menjadi juara).
          Karena sering “ diutus itu” maka tentunya waktu kuliah menjadi kurang, absen menjadi berkurang, dan terkadang sewaktu ujian tidak bisa ikut karena berada di luar daerah.   Akibatnya sudah tentu nilainya tidak maksimal dan terancam Drop Out.
          Dan ketika nasibnya diadukan ke pihak terkait di Unram, semua lepas tangan dan tidak ada satupun yang melakukan pembelaan dan bersedia membantunya, sehingga yang bersangkutan “ drop out “, dan   saya   berusaha   membantu untuk memindahkannya di satu PTS di NTB.
          Pengalaman di atas memberikan gambaran bagi kita bahwa  kita sama sekali tidak memiliki  komitmen untuk menjadikan mahasiswa sebagai mitra dalam memajukan Unram dan bersenergi secara positif.   Kita tidak memiliki  perhatian  khusus kepada mahasiswa yang berjasa pada Unram untuk “ hanya memberikan bantuan sekedar tidak men drop out dan membolehkan mereka terus kuliah dengan dispensasi khusus.
          Oleh sebab itu , ke depan  Petinggi  Unram  harus menunjukkan komitmen yang kuat kepada potensi mahasiswa yang berprestasi membawa nama baik Unram untuk diberikan penghargaan kepada mereka yang berprestasi non akademik.  Mari kita belajar kepada IKIP Mataram  yang memberikan perlakukan istimewa kepada mahasiswanya yang berpestasi nasional sehingga mahasiswanya merasa “ di orangkan “.
          Pernahkah Unram memberikan penghargaan  bagi mahasisnya “ yang mau berangkat berlaga mewakili Unram dan kembali dengan membawa prestasi diberikan bantuan pembiaan atau sejenisnya….Silahkan Tanya hati nurani kita.   Banyak  para atlet dan artis Unram yang kecewa karena lembaganya tidak meghargai prestasinya.
          Suatu kali ada seorang mahsiswa Unram yang kebetulan menjadi penyiar  Radio  ditempat  saya  pergi berkompetisi membawa nama Unram  berpamitan kepada saya dan saya meberikan sekedar uang “ permen  “ ( yang tidak perlu saya sebutkan jumlahnya).    Sang mahasiwa bercucuran air matanya “  sembari berucap…..kenapa   bapak  yang   harus memberikan saya amplop ini, sedangkan lembaga yang saya   wakili   tidak  memberikan  saya apa apa ?
          Jika Unram mau lebih dikenal karena prestasi akademik dan prestasi non akademik maka diperlukan perhatian yang sungguh sungguh dari Rektor terhadap  para atlit dan seniman Unram agar sukses.  Mahasiswa Unram ini sungguh luar biasa potensinya, baik dibidang seni , budaya dan olah raga.  Hanya saja Unram tidak tahu para   Mahasiswanya  menjadi competitor ditingkat nasional  sebagai penyanyi, sebagai pragawati, sebagai  pemain music dan sebagainya.
          Ke depan tidak boleh ada “ Devin Devin “ lain dikorbankan setelah tenaga, waktu dan biayanya dikorbankan untuk Unram, tetapi Unram tidak memberikan apa apa kepada mereka,
         
























(SEPULUH)

FAKULTAS  KEDOKTERAN  YANG  KURANG DANA  ?

          Unram  memiliki Fakultas Kedokteran sebagai salah satu Fakultas yang paling Favorite  karena disamping  “putra putra NTB  tidak perlu jauh jauh ke luar sekolah dokter, juga  relative  biaya di Fakultas Kedokteran Unram paling murah di Indonesia  (bahkan dunia).
          Dulu  ketika pertama kali didirikan, partisipasi  Pemerintah Daerah ( Propinsi dan Kabuparen/Kota)  cukup besar dalam membantu pendanaan dengan menganggarkan ke APBD.  Tapi hampir  3 tahun berjalan  Pemda tidak lagi mengucurkan  anggaran ke Fakultas Kedokteran  disebabkan oleh beberapa hal :
1.     Memorandum of Understanding (MOU)  antara Pemerintah Daerah dengan Unram yang menyangkut Fakultas Kedokteran telah lama berakhir dan kita membiarkan berakhir sehingga tidak ada lagi kewajiban moril dan yuridis untuk membantu Unram;
2.     Tidak ada kejelasan konpensasi yang akan diperoleh oleh Pemda dengan pengucuran  dana APBD  tersebut sehingga membuat Pemda tidak merasa penting mengucurkan dana tanpa ada kejelasan konpensasi;
Akibatnya bahwa Fakultas Kedokteran Unram cukup kesulitan untuk  melaksanakan proses pembelajaran secara maksimal dengan dana yang terbatas, lebih lebih sarana prasarana yang dimiliki Fakultas Kedokteran berupa alat alat laboratorium masih terbatas.
Oleh sebab itu harus ada keberanian dari Pimpinan Unram untuk  menarik sumbangan dari Orang Tua Mahasiswa  guna menutupi kekurangan itu.   Karena dengan SPP yang kecil ( 25   s.d 40 juta)  dan SPI yang berkisar Rp. 50 juta  (sekali bayar)   tentu tidak akan mencukupi bagi  Fakultas Kedokteran melaksanakan programnya.
Coba bandingkan dengan UNUD dan UNAIR  berapa besar sumbangan yang ditarik dari mahaskiswanya. Kalau mereka berani menarik Rp, 150 s/d  Rp.200 juta, kenapa kita tidak berani  meniru mereka.    Menurut aspirasi yang saya serap , bahwa rata rata calon peserta Tes di Fakultas Kedokteran bersedia secara sukarela  memberikan sumbangan diatas  Rp. 150 juta  jika meraka diterima.
Kita  takut ditegur “ pusat “  jika  Unram menarik SPI ke mahasiswa   terlalu besar.   Ho ho ho kalau takut, maka harus dicari system agar  penarikan itu bukan ditarik Unram.   Buat  Yayasan  Orang Tua Mahasiswa, urus akta, syahkan ke Menteri Kehakiman, urus NPWP   yayasan….!  Maka lembaga itu syah dan boleh menarik  sumbangan  dan hasilnya di hibahkan ke Unram….Beres.
Tapi kenapa kita tidak melakukan itu ?     Karena  Unram memang terkenal  PENAKUT.  Sekali lagi PENGECUT, atau krisis KIAT.

Maka kedepan dibutuhkan   Rektor  yang  TIDAK PENAKUT, TIDAK PENGECUT  dan Punya Kiat dan GIAT   membantu Fakultas Kedokteran agar keluar dari kesulitan pendanaan.












(SEBELAS)
PERENCANAAN  UNRAM TANPA  PERNAH DIBAHAS DI
SENAT UNIVERSITAS ?

          Sebagaimana diketahui bahwa  membangun Unram harus dilakukan perencanaan yang matang dan menyeluruh, serta  di landasi oleh aspirasi dari bawah ( kebutuhan Fakulktas dan Unit Unit).     Untuk itulah  keberadaan Team Perencanaan baik di tingkat Fakultas  dan Universitas menjadi  sangat strategis.
          Pertanyaannya ialah siapakah yang  melakukan pengawasan dan legalisasi atas hasil kerja  team Perencanaan ?
          Selama 12 tahun saya menjadi anggota Senat Unram, tidak pernah saya mendengar dokumen perencanaan Unram (program Tahunan dan Perencanaan Anggaran Tahunan di bahas di Senat).
          Akibatnya , Senat sebagai lembaga normative tidak mengetahui   apa   dan sejauhmana perencanaan Unram direalisir dan apa yang menjadi kendala.
          Dalam praktik, dokumen perencanaan Unram  yang sudah disusun dan diinventarisir oleh Team Perencanaan, tanpa  pernah disampaikan ke Senat Universiatas,  kemudian di bawa ke Pusat.  Dan entah benar atau salah, tiba tiba apa yang telah matang direncanakan masing masing Fakultas  terkadang “ menguap dan menghilang “.   Dan  terkadang muncul kegiatan dan program yang tidak pernah direncanakan yang bukan menjadi skala prioritas.
          Siapakah yang salah jika Program yang sudah direncanakan tidak   turun  dananya ?   Apakah kesalahan Team perencanaan  atau kesalahan Pimpinan  Universitas  ?
          Tidak pernah ada penjelasan yang memuaskan.   Paling maksimal yang bisa diterima oleh “ kita “  bahwa pusat  tidak menyetujui dan mencoret program tersebut.    SELESAI,
          Persoalannya  apakah   memang benar “ pusat tidak menyetujui    program program yang diajukan oleh Fakultas, ataukah memang kita  tidak  punya  kekuatan lobby dalam  “upaya untuk memperjuangkan perencanaan itu ke pusat   “.   ?  
          Saya lebih setuju memilih kata : kita kurang loby dan kurang maksimal  untuk memperjuangkan program  dan  anggaran dari pusat sehingga “ kita lebih suka nerimo apa adanya “.
          Soal  loby meloby  dan menjalin silaturahmi dengan orang pusat   kita harus belajar dengan Prof   Mansyur Ma’shum, Phd dan jajaranya ketika beliau menjadi rector.   Tidak ada masalah yang sulit diselesaikan dengan pendekatan silaturahmi.   Inspektorat pusat dan jajarannya  sangat enjoy kalau bertugas ke Mataram, karena Prof Mansyur pasti akan menerima tamu tamu pusat  di rumah dinas dengan makan bersama, nyanyi bersama, dan bincang bincang santai.    Lagu “ Burung   Dalam Sangkar ( Prof  Mansur), Lagu  Broery oleh Pak Edy (Pr II  kala itu),  lagu ANI Rhoma Irama (oleh Pak Amir  PD II Fak Hukum Unram)  dan Lagu lagu PADI oleh Dr Sudirman ( Mantan Dekan Fak Pertanian) , Lagu Jatuh Bangun oleh saya  sangat  berkesan bagi tamu tamu pusat untuk merajut silaturahmi dan dengan demikian hubungan Unram dengan aparat Dikti sangat baik. Meskpun suara para penyanyi dadakan itu pas bandrol.  Sedangkan  dekan dekan yang lain dan pejabat Unram lainnya yang   tidak  bisa nyanyi cukup menjadi  pemirsa dan bertepuk tangan keras   keras  seperti   pendukung “ Indonesian Idol “.
          Kondisi itu sekarang telah sirna sehingga membuat pejabat pusat merasa tidak dihargai jika datang ke Mataram, dan akibatnya keluh kesah dan “ kejengkelan “  aparat pusat ditumpahkan kepada teman teman dalam bentuk berbagai kesulitan yang dirasakan dalam mengurus berbagai kepentingan ke Pusat.
          Rumah Dinas Rektor yang dulu sering “ sumringah  karena sering diadakan silaturahmi dengan berbagai forum kumpul kumpul dan komunikasi “.  Kini rumah dinas terlihat sangat angker ibarat “ tempat jin beranak dan tempat arwah kuburan di sebelah baratnya berwacana dengan alam akhirat  “,
Kondisi ini  harus di akhiri.   Pemimpin Unram ke depan  harus kembali merajut   komunikasi dan silaturahmi dengan pejabat pusat dengan  baik agar perjuangan Unram dalam  merencanakan apa saja akan bisa lancar dan berhasil.
Pejabat  pusat yang datang ke daerah tidak memerlukan uang atau dikasi  uang, karena mereka sudah punya uang.  Yang mereka butuhkan adalah ditemani  ketika  berada di Mataram.  Dan yang bisa menemani adalah pejabat Unram yang mampu berkomunikasi dengan hati, pikiran, perasaan dan ucapan.    Mereka tidak butuh wajah yang “ cuek  apalagi judes.    Apalagi wajah yang  menemani sudah jelek wajah…jelek pula hatinya.    Stop Stop.
Unram kedepan harus lebih luwes, lebih gemulai dan lebih piawai memperlakukan siapa saja yang akan berkunjung ke Unram agar mereka  terkesan akan keramah tamahan itu.


















(DUA BELAS)
RUSUNAWA   sampai   HELER   QUO VADIS

Entah   bagaimana “ sejarahnya    dan riwayatnya, tiba  tiba ada Rumah Susun Guna Sewa  atau bisa juga diartikan Rumah Susun  Untuk Mahasiswa.    Nama tidak –penting seperti kata  Machiaveli…apa arti sebuah nama,   Tapi yang  penting untuk diketahui   bahwa  RUSUNAWA  ini berada di tengah kampus,   Entah kecelakaan apa   yang membuat    dibangunnya   RUSUNAWA di tengah kampus.   Sementara di tempat   tempat   lain RUSUNAWA   letaknya di luar kampus.
Tidak terbayangkan,  seandainya RUSUNAWA ini telah berfungsi  dan  dihuni  maka   betapa  hiruk pikuk, centang perenang, dan  sedikit gaduhnya kampus ini,   Jemuran jemuran warna warni handuk, celana dalam, BH  akan berkibar seperti bendera PBB.  Dan sudah   tentu   berbagai jemuran akan berjumbai  dari  lantai 3 gedung itu.
Tapi   untung gedung itu belum di huni karena belum ada sarana yang menunjang untuk dihuni, baik itu berupa tempat  tidur,  Almari, Meja, Korsi dan lain lain.
Nasi   sudah  jadi  bubur,  RUSUNAWA  sudah  berdiri, tidak mungkin kita robohkan,  karena merobohkan  bangunan Negara tanpa hak dapat diancam pidana. 
Pertanyaanya yang menggelitik ialah , kenapa belum ada sarananya, dan kapan mulai dihuni, bagaimana cara menentukan penghuni , berapa sewanya dan sebagainya,
Rusunawa   itu  tidak  perlu “ lama menganggur   seandainya kita punya terobosan untuk berani melakukan seleksi mahasiswa yang   tinggal   di  tempat itu asalkan dilakukan  dengan  professional.
Dalam suatu diskusi dengan para tokoh Unram saya mengatakan bahwa terlalu mudah untuk membeli sarana  prasarananya  dengan tidak usah membebani dana Unram.
Contoh sederhana bahwa Kos kosan di dekat kampus yang sederhana biasa   di sewa oleh mahasiswa Unnram dengan harga Rp, 300.000 / bulan  atau dengan Tarif Rp, 3.600.000/ tahun.
Maka dengan membuka secara kompetitif calon penghuni Rusuwasa maka tahun pertama telah terisi sarana prasarana  dengan memakai uang sewa mahasiswa. Tahun tahun berikutnya akan terkumpul dana sewa    Rusunawa untuk kepentingan lembaga ( gaji Scurity, Cleaning Serevice dll)
 Kenapa itu tidak dilakukan  ?   Jawabnya seperti yang saya kemukakan di depan bahwa Unram kurang memiliki keterampilan mengelola “  segala fasilitas yang dimilikinya dengan pendekatan Bisnis “.
Unram memiliki    asset   disana sini berupa tanah yang strategis (dipinggir Jalan ) tapi  tidak jelas  hasilnya.   Seperti   tanah yang berada di   Sayang Sayang.   Andaikata   saya  jadi rector Unram maka saya jadikan asset yang tidur itu sebagai tempat “ Restoran Unram “ dengan menu menu yang  diracik oleh mahasiswa jurusan D3 Tata Boga Fakultas Ekonomi Unram,  Kita suruh Fakultas Ekonomi dengan mahasiswanya yang hebat hebat di bidang menejemen mengelolanya. Ketimbang saat ini dibuat “: heuler  dan kandang ayam…..memprihatinkan.
Sekali lagi seluruh asset Unram haruslah dikelola secara professional baik sebagai tempat lab  maupun tempat  bisnis.
Unram   punya  Fakultas Peternakan dengan para akhlinya,  dan punya lahan yang sangat  luas di Lingsar.  Pertanyaannya  APA HASILNYA ?
Secara akademik hasilnya telah dinikmati sebagai  tempat laboratorium.   Tapi akan lebih  “ hebat apabila lahan itu juga bisa difungsikan sebagai lokasi memelihara kambing  dan sapi secara professional   yang   hasilnya bisa dijual setahun sekali untuk keutuhan Hewan Qurban atau konsumsi masyarakat. Dengan demikian program   Bumi Sejuta Sapi bisa digalakkan oleh kampus.
   Rektor  Unram   kedepan   harusnya memberikan modal dan menganggarkan dan memberikan dana yang cukup bagi Fakultas Peternakan untuk mengelola lahan itu, bukan hanya  “ menyerahkan dan membiarkan Fakultas Peternakan berjalan sendiri dengan keterbatasannya.
Fakultas tehnik…..sangat  memprihatinkan  karena sarana prasarana   labolatiorium yang dimiliki sangat sangat minim !
Padahal   kita ketahui, bahwa  Fakultas Tehnik dihuni oleh orang orang hebat dengan berbagai  keahliannya,  Fakultas ini memiliki mahasiswa yang  sangat potensial untuk praktik, jika disediakan sarana tempat praktik.
Tapi sayang….perlakuan kita terhadap Fakultas ini tidak maksimal bahkan nyaris kurang tersentuh.  
Andai   saja Unram mebelikan Fakultas  Tehnik  ini RUKO  atau Lahan sekitar 10 Are di  Sekitar  Cakra, Sweta, Jalan Lingkar Selatan, atau Lingkar Utara. Kemudian dibuatkan sarana perbengkelan yang akan dikelola oleh Dosen dan Para Mahsiswa sebagai bagian integral proses  belajar mengajar sambil berbisnis. Maka berapa penghasilan yang diraup oleh lembaga ini.
Bayangkan saja setiap tahun, seluruh kendaraan di Unram selalu mengalami service dengan anggaran dana tidak kurang dari ratusan  juta.  Nah kalau  biaya  service dan perawatan itu diserahkan ke Bengkel Fakultas Tehnik maka betapa  uang Unram tidak   perlu   mengalir  ke bengkel  bengkel yang tidak jelas selama ini,
Gagasan   saya ini  pernah ditentang oleh salah seorang jajaran  di Unram dengan  mengatakan bagaimana mungkin kita bisa  buat   kwitansi SPJ   kalau dibuat oleh Fakultas Tehnik ?
Saya katakan…… hey Bung….Unram itu punya PT dengan nama PT. Lotus yang sahamnya dimiliki oleh dekan dekan Fakultas,  Nah suruh PT Lotus itu mengurus SIUP, NPPWP,  dll yang bergerak dibidang perbengkelan sebagai bagian perluasan usaha maka selesai masalah.
Masalahnya   :
1.     Banyak pejabat Unram yang tidak tahu ada Badan Usahanya yang bernama PT, Lotus ;
2.    Banyak pejabat Unram  yang tidak ingin PT Lotus milik Unram  bisa berkembang   dan hidup.  Kita lebih senang jika pekerjaan   pekerjaan ( proyek)  yang semestinya bisa melalui penunjukan langsung untuk PT Lotus tapi mengalir ke perusahaan lain .  Entah apa sebabnya.
Maka ke depan Unram harus memberikan perhatian kepada masing masing Fakultas dan Badan Usaha milik Unram untuk diberikan kepercayaan bergerak membuka usaha dan sekaligus sebagai media praktik mahasiswa.






















(TIGA  BELAS)
KAMPUS YANG KURANG AMAN ?

Tahukah  anda berapa rata rata kendaraan Roda 2 yang hilang setiap bulan di Unram ?   Menurut informasi yang sahih bahwa  angka kehilangan sepeda motor di Unram rata rata 2 buah perbulan,  Ini cukup pertanda bahwa  Kampus Unram kurang aman,
Bahkan bukan saja kendaraan roda 2  yang hilang, Speda Ontel milik dosen dan mahasiswa bisa hilang dalam hitungan menit,
Perdebatan pengamanan kampus sejak lama menjadi perdebatan dan berbagai rekomendasi  telah diberikan tapi tidak mampu dilaksanakan secara baik.
Percuma saja kampus diberikan pembatas  masing masing Fakultas kalau tidak mampu memberikan keamanan dan kenyamanan.  Betapapun   kampus   dipagar   kalau tidak ada petugas yang menjaga maka keamanan tetap tidak maksimal.
Maka   solusi   yang paling efektif untuk menjaga dan meberikan rasa aman ialah dengan menyediakan tenaga parkir  bertugas di pintu keluar masuk masing masing dengan system ticketing,
Setiap kendaraan yang masuk harus diberikan tiket dan dikembalikan ketika mereka mau keluar.   Hal itu bisa terlaksana apabila tersedia anggaran yang cukup untuk mengangkat tenaga parkir di masing masing Fakultas.
Kalau ector tidak mau melaksanakan karena tidak sempat mikir soal parkir, maka  serahkan soal parkir ini ke unit usaha jasa keamanan dan perparkiran kampus, dan ajak BEM masing masing Fakultas bermusyawarah.
Contoh : setiap hari jumlah mahasiswa   Fakultas Hukum Unram yang kuliah rata rata 1000 orang,   Nah jika  mahasiswa dikenakan   biaya parkir 2000 rupiah sebulan maka terkumpul uang 2 juta rupiah,
Uang yang   2 juta itu sisihkan 1 juta rupiah untuk honor bulanan 2 tukang parkir maka akan tersisa 1 juta rupiah diserahkan BEM sebagai dana operasional BEM.   Nah BEM mana yang tidak mau dikasi uang operasional 1 juta sebulan……pasti mau, daripada speda motor hilang.  Praktik seperti ini akan mudah dilaksanakan di FKIP dan FE dan FT yang mahasiswanya banyak.
Sedangkan bagi masiswa kedokteran…..uang parkirnya di besarkan karena dihuni oleh orang orang kaya.  Dan untuk Fakultas yang sedikit mahasiswanya maka Rektor harus menganggarkan masing masing Fakultas 12 juta setiap tahun…..kecil kecil  ndak seberapa.
Cara cara seperti itu harus mulai dilakukan untuk memberikan rasa aman kepada mahasiswa yang kuliah, sebab jika tidak, mahasiswa tidak konsentrasi dalam kuliah karena memikirkan nasib speda motornya yang akan hilang.
 




















(EMPAT  BELAS)
                RAPAT  KERJA  TAHUNAN   ……..GILA  ?
          Dalam  Filsafat Ilmu  ada  4  jenis    TAHU “ , yaitu :
1.     Sangat  Tahu   terhadap yang di Tahu  ( Sang Pencipta)
2.     Tahu  terhadap yang dia Tidak Tahu ( Ilmuwan)
3.     Tidak Tahu  atas apa yang dia Tahu  (Orang Tidur)
4.      Tidak Tahu atas apa yang ia Tidak Tahu  (Orang Gila)
Maka  proses untuk  menjadi tahu  itu harus dengan belajar dari orang yang tahu,  dan jangan belajar dari orang  yang  Tidak Tahu.  Maka  dalam setiap musyawarah  dan rapat, patutlah didengar  pendapat orang yang  lebih  tahu, bukan mendengar  orang yang tidak tahu, sedikit  tahu   apalagi tidak tahu.
Dalam  ilmu hokum   juga ada asas “  nullus testis ulus testis “, satu pendapat dari  orang  yang  tahu, bukanlah saksi.    Janganlah mengajak orang yang tidak tahu sebagai  saksi ( de auditu).  Yang paling  tepat itu ajaklah  orang  yang “  mengalami langsung,  mendengar  langsung, menyaksikan langsung  dan merasakan langsung persoalan itu,   Itulah prinsip hokum.
Nah  sangat  menarik  jika  menyaksikan  Rapat Kerja Tahunan (RKT)  Tahun 2012  yang bertempat di  Hotel Jayakarta tanggal  9  sampai 11  Desember 2012.    Menarik  bukan karena tempat di Hotel Berbintang dengan biaya yang cukup  besar.   Menarik  karena orang yang “  TAHU “  tidak diikut sertakan  dalam RKT  tersebut.
Tentunya  salah  satu pihak  yang TAHU  tentang isi  jeroan  Program Magister (S2)  adalah para ketua dan sekretaris  Magister.  Karena dialah yang setiap saat berhadapan dengan persoalan proses belajar belajar dan keuangan.  Merekalah yang lebih tahu apa kendala dan bagaimana  sejatinya  yang harus dilakukan ke depan tentang Magister.   Merekalah yang  setiap saat dihujat oleh  dosen karena  keterlambatan  pembayaran  honor.   Rektor, pembantu rektor,   Direktur   Pasca…..tidak TAHU  itu semua, bahkan mungkin acapkali  tidak  pingin  TAHU  kesulitan para pengelola.    Pertanyaannya ialah  :  bisahkan kita  (Unram ) menyusun program kerja yang  baik  tanpa  mengajak orang yang TAHU.  Atau bisakah  menghasilkan sesuatu perencanaan valid yang jika  dihadiri  oleh orang yang TIDAK TAHU  masalah.
Nampaknya memang telah terjadi  “ distorsi  berfikir “  dari  penyelenggaran   RKT Unram,  yang mungkin  sengaja  tidak  mau mengajak  orang  yang TAHU  masalah karena  :
1.     TAKUT  dikritik habis habisan akibat pelayanan yang buruk dari Unram terhadap program Magister  sebagaimana RKT tahun 2011;
2.    Unram TAKUT  dikuliti sampai akar akarnya oleh Pengelola Magister  akibat   amburadulnya  menejemen di Rektorat;
3.    Unram  TAKUT ditelanjangi sampai kudis kudisnya dan borok boroknya  jika para pengelola  S2  dan Non Reguler diundang.
Maka cara  paling aman seperti  gaya ORDE BARU  adalah dengan membungkam para pengelola S2 dan Non Reguler sehingga  tidak bisa menyelurkan aspirasinya secara baik.
Nah  justru yang terjadi, seperti kata   Dekan Dekan yang hadir dalam satu komisi , maka  Pembantu Rektor IV  mencoba menggurui para Dekan dalam menyusun, menata dan menatap masa depan Unram  dan masa depan Fakultas.  Tentu para dekan merasa “ jengah “, karena yang lebih tahu tentang Fakultas  adalah para dekan, dan yang lebih tahu tentang merencanakan Unit  adalah para ketua unit. Mereka tidak perlu digurui dan diajari.  Mereka  hanya perlu “ diminta pendapat, diminta saran, diminta kejernihan pikiran “ yaitu kemana arah dan  rencana masing  masing Fakultas dan Unit jika mau menuju Unram yang berwibawa.
          Budaya  “ menggurui  dan sok tahu “ inilah yang sekarang terjangkit pada jajaran rektorat  sehingga  menganggap orang lain ndak ada apa apanya, menganggap  Fakultas Fakultas  adalah”  subordinat   alias   bawahannya  yang bisa diperlakukan seenaknya dan semaunya.    Budaya  “ sok pinter “ inilah  yang membuat timbulnya kurang penghargaan  pada  Unit Unit   sehingga apa  yang diusulkan oleh masing masing unit sering tidak berhasil karena dianggap tidak relevan,  dan yang dianggap relevan adalah apa yang dianggarkan rektorat.
          Selain budaya “ menggurui”  maka ada lagi budaya lain yang menjangkiti Unram  yaitu budaya “ berkelit alias menghindar alias  ngeles “   dari kesalahan.  Selalu  saja ada kambing hitam  (padahal manusia)  yang disalahkan jika terjadi kekeliruan.  Selalu saja “ bawahan  yang disalahkan jika terjadi  “ masalah “,  padahal dalam ilmu organisasi , menejemen dan ilmu hokum”, bahwa  yang bertangung  jawab atas kekeliruan dalam unit organisasi adalah “ atasan”.
          Suatu kali  ketika saya menjadi Ketua LPM, uang LPM dicairkan  oleh  tanpa sepengetahuan saya   sebagai ketua.  Dan baru saya tahu uang itu sudah habis tiga  bulan kemudian.  Atas tragedy itu maka saya melakukan protes ke rektorat, yaitu mengapa  Bendahara Unram bisa mencairkan uang tanpa sepengetahuan saya.  Dengan enteng bendahara  menjawab “  karena saya di telpon oleh seseorang untuk mencairkan !    Pertanyaannya, bolehkah  seorang bendahara  mencairkan uang  hanya karena ada telpon seseorang ?      Terlalu  banyak kasus yang muncul dan terjadi di Unram akibat tidak adanya apa yang dinamakan “  Standar  Operasional  Pelayanan ( SOP)  atau  Standar Pelayanan  Mininimal (SPM)  atau Standar Pelayanan Maksimal (SPM).    Akibat tidak adanya SOP itu maka tidak ada  kepastian, kapan sebuah  palayan harus tuntas. Misalnya butuh berapa lama Rektor harus menerbitkan sebuah Surat Keputusan (SK) sebagai  dasar pembayaran honor .   Nah dalam pengamatan saya, rata rata  SK yang dibuat oleh Rektor memakan waktu 2 bulan sehingga berdampak pada lambannya pencairan honorarium dosen.    Dalam satu rapat yang dipimpin oleh Pembantu Rektor II, saya pernah protes dan menyatakan kalau hanya membuat Surat Keputusan kalau diserahkan pada saya dan Fakultas Hukum saya hanya butuh 1 jam, tidak perlu membutuhkan waktu 2 bulan.  Tapi lagi lagi “ ilmu kambing hitam dikeluarkan oleh Unram dalam membela diri atas segala keterlambatan itu”.
          Kembali  kepada  cerita  RKT  ( Rapat   Kerja Tahunan)  , sekali lagi saya ingin mengatakan bahwa tidak ada perencanaan yang matang dan mantap di Unram karena ketika menyusun segala perencanaan tidak diikuti secara serius oleh yang bekepentingan .  Bagaimana mungkin  sebuah perncanaan “ pengembangan magister “  jika  para pengelola magister tidak diajak  ikut merancang tentang masa depannya.   Bagaimana   mungki  “ orang lain “  yang akan merancang masa depan  saya ?  Ini  benar benar  gila, benar benar  bahlul kata orang Arab !
          Bagaimana  mungkin  orang yang  TIDAK TAHU  akan merancang sesuatu yang dia TIDAK TAHU….,maka ini sudah GILA.
          Tentunya  dalam kegilaan ini, ada yang  salah , tapi entah siapa yang salah !   Yang salah bisa panitia penyelenggara,  yang salah bisa pak Asis yang biasa anter undangan ( sehingga Prof Qazuini  harus hadir dalam rapat senat padahal  beliau sudah dipecat jadi Senat), yang salah bisa  jadi  tangan tangan halus  yang memberikan doktrin agar para pengelona S2 dan Non Reguler tidak perlu diundang.
          Tapi  bagi saya yang salah ialah MENGAPA HANYA SEKEDAR RAPAT KERJA  harus  di hotel yang biayanya puluhan juta rupiah dan bahkan ratusan juta rupiah.  Di tengah tengah keadaan  yang “  katanya  Unram kesulitan anggaran “  kok tega teganya  rapat di hotel.    Tidak bisakah rapat itu diadakan di kampus ?  Apa  hasil di hotel  lebih bagus daripada  rapat di kampus “. Oh  TIDAK JAMINAN.
          Rapat di Kampus akan lebih baik hasilnya sepanjang dilakukan dengan semangat kebersamaan,  jika  dibangun dengan semangat silaturahmi   (BUKAN PERMUSUHAN),  jika  dilandasi  oleh  rasa persaudaraan dan ihtiar untuk  membesarkan Unram bukan rapat pilih kasih.
          Andai saya  jadi Rektor, maka dana RKT itu saya pakai untuk Rapat Kerja Tahunan di Kampus dan segala biaya hotel Jayakarta itu saya  pergunakan untuk memberikan honorarum sebesar besarnya kepada Team Perumus   dan Para Peserta agar lebih bergairah.  Dan kondisi rapat yang bergairah itulah akan lahir hasil yang “ memuaskan “.  Orang yang  rapat  sambil   tidur karena tidak bergairan  tidak akan menghasilkan perumusan dan perencanaan yang baik.   
          Bagian Keuangan  Unram selalu berkelit, tidak bisa kita memberi   honor yang besar Pak, karena ada standar honorarium.  Oh tuan tuan  yang goblok….banyak  cara  untuk melakukan pembayaran atau  penghargaan  agar tidak dianggap memberikan honor berlebihan. Misalnya beli Tas seminar , blok note,  ditambah fulpen  Parker yang harga lima juta, dan isikan dengan arloji tangan merek SEIKO harga lima juta …beres. Gitu aja kok repot.  Kalau itu masih dianggap pelanggaran,  maka dana  RKT  belikan ribuah nasi bungkus  dan bagikan kepada anak yatim, Insya Allah doa anak yatim itu akan lebih didengar Allah untuk  Unram, ketimbang doanya orang orang di hotel.
          Ada  cerita menarik  dari teman saya yang ikut RKT ( tidak usah saya sebut namanya)  ,  saya menelpon dia “  hallo pak, sedang dimana,  kemudian dijawab :  saya sedang ke RKT…!   Lho apa bapak tidak   ikut   ke  Bupati Lombok Tengah  untuk rapat Team Akhli , Tanya saya !
          Dengan  sigap temen saya  menjawab “….ya ya pak, saya akan berangkat meninggalkan RKT,  rugi donk kalau ndak ke Praya…khan honornya di Praya lebih besar daripada RKT…..!   Akhirnya temen itu nyelonong meninggalkan RKT !
          Apa yang ingin dipetik dari cerita itu adalah bahwa seseorang akan meninggalkan suatu pertemuan yang kurang bergairah  dan menuju pertemuan yang dianggap lebih bergairah jika dihargai ilmu, pikiran, dan pendapatnya dengan  nilai yang lebih setimpat.   Para Guru Besar  kadang sering diminta pendapatnya,  tapi tidak ada Pendapatannya .
          Untuk itu marilah kita menutup segala KEGILAAN dalam rapat kerja  itu agar kelak tidak mengulangi kesalahan menjadi orang GILA, karena kita memang orang orang terhormat tapi tidak gila hormat.   















LIMA  BELAS
PENDOBRAK
          Pada suatu  hari,  yang saya  lupa  harinya,  yang jelas  tanggal  15  Agustus,   bertepatan  dengan  hari  kelahiran  saya,  saya   di telpon oleh  tamu saya    Dr L Hayanul Haq, SH,LLM  ( dosen Fakultas Hukum yang sangat terkenal di Belanda)  dan Seorang Pakar Hukum dari Belanda (Hans Meyer).         Betapa terkesannya  tamu saya ketika  akan memasuki Kampus Unram ( persis  sebelum Jembatan)  kami diperiksa oleh  skuriti  dengan Portal Jalan yang tertutup.  Sang Sekuriti  dengan pakaian sangat rapi, postur  atletis dan gagah  menyambut kami  dengan ramah  dan memberikan kami tanda untuk dipasang di dada kiri sebagai tanda bahwa saya adalah tamu terhormat  dan  dengan tanda itu berarti  kami bebas  keluyuran  di Kampus.  Dan berarti  tidak  sembarang orang diberikan masuk Kampus, kecuali  hanya mahasiswa, dosen dan tamu yang punya kepentingan.   Orang orang yang tidak berkepentingan tidak diperbolehkan masuk kampus.
          Betapa tertibnya waktu itu, sehingga teman saya mengatakan bahwa Unram telah menunjukan diri sebagai sebuah lembaga yang sangat   profesional, yang memberikan pelayanan sejak tamu masuk kampus,,,,mirip dengan pelayanan di kampus kampus Eropa.
          Akhirnya tamu saya ingin bertemu dengan Rektor Unram untuk berdiskusi tentang  berbagai program.  Sampai di lantai II gedung rektorat, kami  telah disambut  oleh resepsionis dan sekretaris rector yang cantik cantik  dan  fasih berbahasa asing  (bahasa Inggris, Belanda dan Spanyol). Pakaian mereka seperti para pramugari   Garuda (biru muda bervariasi dengan kembang setanam biru tua)  dengan tutur kata yang menyejukkan.   Rasa menunggu 1 jam tidak terasa karena karyawati dan recepsionis menemani  kami dan para tamu lain dengan suguhan berbagai minuman dan makanan ringan.  Ternyata rektorat  telah menyiapkan “ mini bar yang lengkap serta para  waiters yang manis dan ayu persis seperti para pegawai hotel berbintang “.    Teman saya itu berujar “  Unram sudah luar biasa…. Menyuguhkan performa yang maksimal dalam menyambut tamu dan mempersiapkan diri sebagai Universitas Terkemuka di Indonesia.
          Setelah bertemu rektor, kemudian kami melanjutkan jalan jalan menuju Fakultas Fakultas yang ada.     Ternyata di masing masing Fakultas saya mendapatkan  penyambutan yang sama dengan keramahan yang luar biasa oleh para sekreratis dekan,  waitres, recepsionis dengan aneka busana indah seperti pramugari Lion Air, Batavia,  Wing Air, Air Asia  , sesuai dengan bendera masing masing Fakultas.   Di Fakultas Hukum  saya disambut oleh dara dara manis dengan kebaya merah dan busana merah, di Fakultas Ekonomi dengan wajah ayu dengan busana kuning dan seterusnya. 
          Teman saya menyatakan “ Excelent……..Ruaaar Biasa….!
          Unram telah berbenah  katanya…………………………. !
          Disepanjang jalan lingkungan ternyata telah dibangun trotorir (trotoar)  untuk mahasiswa pejalan kaki sehingga bisa berjalan santai tidak takut kepanasan, karena di atasnya telah dilingkari atap kanopi  berjajar sejak depan rektorat menuju kampus ke kampus dengan indahnya, dan terakhir kami berkunjung ke sebuah restoran di ujung Kampus Utara ( bekas kantor rektorat yang lama). Disana telah berdiri megah restoran Unram yang sangat strategis dengan menu terjangkau oleh kantong mahasiswa dan dosen. Dan disampingnya ada Toko Buku Gramedia yang cukup besar menjual buku buku kebutuhan kampus dan buku umum lainnya.
          Setelah selesai bersantap siang dengan tamu saya tadi, mereka minta dicarikan  tempat penginapan yang dekat dengan kampus. Maka pikiran saya langsung tertuju pada Guest House Unram.   Langkah saya bergegas menuju Guest House Unram yang terletak di depan FKIP  Unram , yang dulu adalah RUSUNAWA.    Rusunawa itu ternyata telah disulap menjadi Hotel Berbintang oleh Unram dengan nama  The Grand University  Hotel.   Hotel ini luar biasa  mewahnya dengan pelayanan prima oleh para mahasiswa  D3 Jurusan Perhotelan Fakultas Ekonomi Unram.
Setelah tamu saya ceq in di Hotel Unram,   terdengar suara azan dari Masjid  Babul Hikmah yang megah  yang menggelegar itu membuat saya “ TERBANGUN”.  Ternyata apa yang saya alami tentang Unram yang luar biasa itu hanyalah mimpi belaka……………!
          Mimpi yang bisa menjadi kenyataan oleh orang yang punya obsesi,,  mimpi yang bisa terwujud oleh sang Pendobrak  , bukan oleh orang BANGAK.
          Maka Unram memerlukan PENDOBRAK………….
          Unram harus di Dobrak untuk bangun dari tidurnya.
Unram harus di Dobrak agar ia segera ereksi untuk dapat mewujudkan fungsinya mekahirkan  generasi yang kaffah.
Akhirnya sembari melantunkan  lagu Bongkar  dari Iwan Fals,  dengan langkah gontai saya pulang ke rumah Tuhan untuk  memanjatkan doa agar  almamater saya ini tetap jaya.





SEBELUM  PENUTUP
BIROKASI   GUNUNG  KELUD  VERSI  UNRAM
          Suatu  hari  ada “  macan “ yang memangsa penduduk di lereng Gunung Kelud dan suasana dusun  begitu mencekam, dan akhirnya  demi menyelamatkan penduduk dan macam, maka Ketua RT  ditugasi  oleh masyarakat untuk bermusyarah dengan Kepala Lingkungan untuk mencari solusi, apakah  Macan itu dibunuh atau pendudukan yang di ungsikan.  Proses musyawarah berjalan kurang lebih 1 minggu ( maklum pak Kepala Lingkungan sedang banyak tugas ke Kecamatan , alias  study banding kata orang  pinter)  yang mengakibatkan “  sang Macan telah membunuh 5 orang penduduk.
          Karena kondisi sudah semakin panik maka Kepala Lingkungan dan  RT memutuskan untuk berkonsultasi ke Kepala Desa.  Lagi lagi proses pengambilan keputusan di Desa mengalami birokasi panjang,  apakah  Macan dibunuh atau  tidak .  Proses yang panjang di Desa karena Pak Kades sedang studi banding jalan  jalan  ke Kabupaten dengan membawa anggota BPD  sambil karokean.   Akibatnya, Korban berjatuhan semakin banyak yaitu “ 10 orang telah tewas.
          Turun keputusan dari Desa bahwa “ persoalan Macan “  harus di konsultasikan Pak Camat tentang boleh tidaknya membunuh Macan Tutul sebagai binatang langka. Pak Camat ternyata sulit dihubungi karena  sedang keluar studi banding dan jalan ke Ibukota Propinsi sambil shoping membawa isteri.  Sehingga butuh waktu 2 minggu dimusawarahkan yang hasilnya “  persoalan macan harus di konsultasikan ke Bupati. Saking lamanya birokrasi di Camat maka telah  terbunuh 50 orang pendudukan lereng gung Kelud.
          Ternyata di Kabupaten juga demikian betapa sulitnya bertemu Bupati yang saat itu sedang terjerat kawin sirih dengan gadis  yang dituduh tidak perawan.   Dampaknya konsultasi dengan Bupati memakan waktu 1  bulan  dan penduduk yang sudah terbunuh berjumlah 100 orang.
          Karena pak Bupati tidak faham tentang satwa yang dilindungi seperti Macan Tutul maka Bupati mengajak Camat, Kepala Desa dan Kadus menghadap Gubernur untuk meminta Fatwa.   Tetapi fatwa agak sulit keluar karena Gubernur sedang studi banding ke Malaysia, Singapure, Bangkok, Jepang,  dan lain lain.., sehingga  memakan waktu 2  bulan.     Dalam waktu 2 bulan menunggu Fatwa ternyata sang Macan telah membunuh seluruh pendudukan lereng Gunung Kelud.    Artinya begitu turun Fatwa dari Gubernur agar Macan Tutul ditempak, bahwa penduduk sudah tiada dan yang tersisa hanya pak Kadus yang kebetulan ikut Jalan Jalan.
          Begitu panjangnya proses birokrasi terkadang tidak dirasa telah membunuh “ sendi sendi kemanusiaan dan  meracuni kesehatan berfikir.   Mungkinkah birokrasi versi Gunung Kelud itu terjadi di Unram.  Saya tidak tahu,  tapi saya hanya ingin bercerita tentang pengalaman saya yang memimpin sebuah Unit yang namanya  Magister yang menurut saya waktu itu  kondisinya sedang “ koma “  karena kekurangan darah.
          Kenapa kekurangan darah karena sebuah lembaga sebesar  Magister Ilmu Hukum yang usianya lebih dari 10  tahun dengan uang yang banyak tetapi tidak memiliki sarana belajar mengajar berupa  “ LCD, Laptop, audio dll”.   Maka setelah melihat dan mempelajari pagu yang ada yaitu pagu angggaran Magister Hukum Tahun 2012  tertulis jelas ada anggaran untuk membeli korsi  Rp 40 juta,  pagu membeli LCD dan Laptop kurang lebih Rp.15 juta, dan pagu pengecetan ruang belajar Rp. 10 Juta.
          Maka pada bulan Mei 2012  saya bersurat ke Rektorat agar dibelikan kebutuhan tadi karena kami dalam keadaan koma.  Saya sadar sesadarnya bahwa menunggu alat alat dari Unram  tentu tidak bisa cepat, maka saya  bersama teman teman membeli sendiri sarana dan prasaran itu berupa LCD  2  buah , Laptop  2 buah  dan Soung Sistem  1 set.  Darimana uangnya….tidak perlu tahulah, yang penting itu uang halal dan bukan dari uang Unram. 
          Bagaimana dengan nasib Surat  Permohonan saya bulan Mei itu , ternyata sampai  7  bulan  yaitu  sampai  bulan Desember barang barang yang saya mohon  tidak kunjung tiba sehingga saya pernah mengirim SMS  dengan nada Tanya….apakah di Unram ada mavia ?     Oh ternyata di Unram ada Birokrasi  ala Gunung Kelud yang membuat unit terancam mati.
          Pertanyaan saya itu ternyata banyak orang kebakaran jenggot  termasuk Pak Ruspan yang punya jenggot , termasuk PR II Unram padahal beliau tidak punya  jenggot tapi tersinggung atas sms saya itu.   Beliau bilang di Unram tidak ada “ mafia “  semua sesuai prosedur.    Maka saya diundang khusus membahas persoalan itu.
          Apa yang terjadi ?    Ternyata  PR II bukan menyelesaikan masalah “ birokrasi gunung kelud yang  membuat  Korsi dan LCD kami tidak jelas nasibnya, bukan memarahi staf yang keliru atau salah sehingga  anggaran kami hilang.   Tapi yang dipersoalkan mengapa  saya  menyebut kata kata mafia.
          Saya mencoba sabar dan tidak emosi, karena mungkin PR II waktu itu tidak mengerti  makna  mafia.   Mafia  artinya   dalam bahasa Itali adalah  “ orang orang terhormat “ . Apakah salah saya mengatakan di Unram banyak orang terhormat sehingga harus lebih banyak dihormati daripada melayani.   Saking “ terhormatnya  “ maka   bagi yang tidak sering  datang untuk hormat akan tidak dihormati,  jika anda tidak sering sering nelpon dan memberi hormat untuk mengingatkan surat surat yang anda kirim maka surat surat anda akan hilang.  Itulah  terhormatnya teman teman saya di Unram sehingga saya menyebutnya mafia.   Orang terhormat  biasanya hobi jalan jalan bersama  isteri , hobi studi banding, hobi  seminar dengan mengajak isteri, dan sesekali shoping.
           Maka akibat sms “ mafia “  itu maka persoalan saya yang lain dirongrong,  PR II meminta  saya membuat laporan kegiatan Pendampingan SMK yang  dikerjakan oleh Team LPM ketika saya menjadi Ketua LPM tahun 2011.  Aneh khan ?
1.     Aneh  I,  saya sudah berhenti menjadi Ketua LPM Bulan Maret 2012  , kenapa saya disuruh membuat pertanggung jawban lembaga yang saya sudah berhenti , padahal  MOU  yang saya buat adalah antara LPM dengan DIKTI  bukan antara Zainal Asikin dengan DIKTI  , maka ketika saya sudah berhenti sejatinya  PR II bersurat ke Ketua LPM  yang baru untuk membuat Laporan dengan meminta bantuan saya.  Bukan seperti sekarang Ketua LPM yang baru ongkang ongkang terima honor kemudian saya yang disuruh buat laporan kegiatan LPM .  Ini bener bener menejemen rusak.  Tapi tak apalah saya akan kerjakan tugas itu sebagau bentuk tanggung jawab moral, karena kita memang orang yang moral meskipun tidak sesuai dengan menejemen Organisasi.
2.    ANEH  II ,  kami disuruh buat laporan oleh PR II tanpa dasar surat surat. Lho kok bisa PR II merintah lisan padahal beliau tidak ada kaitannya dengan proyek ini,…hoho persis seperti kata lagu Peterpan  “ Ada Apa Denganmu “.
Memang di Unram sering terjadi aneh aneh oleh mahluk aneh.   Pada sekitar tanggal  10 Desember  2012  saya memperoleh email dari  Kementerian Pemuda yang isinya “ honorarium team pengawas PSP3  kerjasama  LPM Unram dengan Kementerian Pemuda “  honor telah keluar terhitung sejak bulan Februari 2012 ( terhitung sejak saya masih menjadi Ketua LPM).   Tapi nama nama yang akan memperoleh honorarium adalah nama nama yang saya tidak kenal dan tidah tahu pernah berkecimpung dalam proyek itu, apalagi pembayarannya terhitung mundur sejak saya masih menjadi  Ketua LPM…..ini benar benar lagunya ADA BAND yang  berjudul MANUSIA BODOH.
Suatu kali “  bulan  Agustus  2012  datang Tukang Cat :  ke Magister Hukum melakukan pengecetan ruang kuliah, kemudian setelah mengecat tidak ada berita apakah ngecatnya sudah selesai, benar benar aneh, istilah Jawa sama sekali tidak kulonuwun.  Saya tidak tahu darimana uang Cat Mengecat itu………………………………!
Peristiwa diatas saya sampaikan dalam tulisan ini untuk membuktikan bahwa di Unram sering terjadi  keanehan  ,  rektorat tidak  focus dalam menyelesaikan persoalan, dan sering intervensi terhadap sesuatu yang tidak perlu di intervensi apalagi bertentangan dengan menejemen organisasi  dan melalaikan hal hal yang utama  sehingga terjadilah  birokrasi Gunung Kelud.
Mari kita tutup cerita Birograsi Gunung Kelud itu dengan  satu kata  yaitu janganlah “  sok Pinter “.   Mengapa proyek proyek di Unram  sering terjadi masalah karena kita memang  “ sok Pinter “.     Pinpro ( PPK)  merasa sok Pinter sehingga segala  urusan proyek dianggap hanya dia yang tahu, dan orang lain dianggap tidak tahu.   Panitia  Pelaksana juga merasa sok Pinter  sehingga tidak mau mendengar nasihat orang lain…..yang lain juga mungkin sama saja.  Padahal untuk menjadi Pinpro dan Panitia saratnya tidak sulit yaitu punya “ Sertifikat Pengadaan Barang dan Jasa “.   Kalau itu saratnya :  saya sih punya.   Tapi yang kurang dimiliki oleh Panitia dan PPK di Unram adalah pemahaman secara mendalam  tentang hokum ( UU  dan Perpres tentang Pengadaan).  Kalau hanya  menghafal Pasal,  ponakan saya yang masih kuliah di Fakultas Hukum sangat hapal bunyi Perpres No.54  dan Perubahannya.  Tapi yang harus difahami adalah “  nafas, nadi, denyut jantung dan semangat  dari Perpres itu,   
          Akibat sok pintar itu seringkali proyek menjadi “ rusuh   .   Hotib di Kampung saya sering sok Pinter  dan tidak mau diganti sebagai hotib padahal “ Buku Hotbah Jumatnya sudah zaman Nabi Nuh yang ditulis dengan huruf Arab Gundul.    Jadi hanya dia  yang bisa membaca    Buku Khotbahnya “  dan menganggap dirinya hebat karena orang lain tidak bisa baca Kitab Gundul.
          Suatu  kali  “ hotib itu naik ke Mimbar  dan mulai beraksi membaca hotbah, akan tetapi memasuki halaman 3,  lembaran  buku hotbahnya yang sudah tua  ketinggalan di meja tamu rumahnya.  Akhirnya  hotbah di tunda beberapa menit dengan suasana  gaduh campur lucu   sambil menunggu  lembaran yang diambil oleh Marbot ( penunggu Masjid).   Andaikata  hotib itu tidak sok Pinter maka peristiwa itu tidak  mungkin terjadi, karena  jika buku hotbah rusak bisa diganti dan dibaca oleh hotib   lain dengan buku Hotbah  yang lebih up to date.
          Jadi  persoalan sholat Jumat yang rusuh oleh Khotib  dan proyek yang rusuh adalah 2  hal yang sama, yaitu sama akibat petugas yang sok pinter.
          Semoga  kita menjadi orang yang sadar  bahwa   masih ada orang yang lebih pinter ketimbang kita,,,,,,!

















PENUTUP
Tulisan dalam buku ini adalah  Otokritik  atas kondisi Unram saat ini.  Tidak ada niat dari penulis untuk menyalahkan siapa siapa atas “  amburadulnya “  Unram.   Karena kita adalah bagian dari kesalahan itu.  Jika Unram salah dalam perencanaan dan pengelolaan, maka itu adalah kesalahan yang “ berjamaah “.   Buku otokritik ini adalah sama seperti buku otokritik saya sebelumnya yang berjudul “ Ngeremon Sang Guru “ yang mengkritik tentang Hidup, Tentang NTB dan Tentang Manusia “. 
Kesalahan komunal itu terjadi di Unram seperti lingkaran setan. Katakanlah jika kesalahan itu disebabkan oleh  kesalahan  Pembantu rector,  maka yang mengangkat dan memilih Pembantu Rektor adalah Senat (secara voting), maka itu berarti kesalahan Senat kenapa memilih Pembantu Rektor yang tidak bermutu.  Jika kesalahan terletak pada Rektor yang kurang memantau dan mengawasi kinerja bawahan, maka kesalahan berada pada Senat, kenapa memilih rector yang tidak faham menejemen dan kepemimpinan.  Jika yang disalahkan “ senat  yang kurang kritis dalam melakukan tugas sebagai lembaga normative, maka   kenapa dosen dosen memilih anggota senat yang kurang kritis,  maka kesalahannya  terletak pada dosen.     Jika kesalahan dialamakan kepada dosen atas kondisi  Unram ini  yang tidak memilih anggota  senat yang berkualitas  dan memberikan aspirasi yang benar pada pemilihan rektor, maka  persoalannya   ialah  bahwa  dosen tidak punya hak suara  mutlak dalam pemilihan Anggota Senat dan Rektor,karena  untuk menjadi anggota senat universitas tidak sembarang orang, yaitu  orang yang punya pangkat “ tertentu “, bukan orang orang yang punya  kualitas tertentu.   Karena belum tentu orang yang punya pangkat  tertentu dan umur lebih tua akan menjadi lebih  kritis  dan lebih  cerdas.  Kecenderungan dengan umur lebih tua maka orang orang akan cepat ngantuk, cepat capek, cepat bosan dan  pokoknya tidak energik.  Maka tidak heran anggota senat sering kurang energik  dan kurang kritis.   Maka yang salah adalah “ system”.   Artinya system pemilihan anggota senat harus dirubah jika ingin memperoleh hasil anggota senat yang baik.
          Oleh sebab itu kedepan  Unram  harus  berbenah diri dari persoalan  system, persoaloan  substansi, persoalan  structural  dan  cultural.
          Mohon maaf jika ada yang merasa tersinggung atas isi buku kecil ini yang terkesan “ keras  dan apa adanya “.   Semua itu karena saya memang orang yang dilahirkan dalam zodiac yang keras yaitu Leo. Orang Leo punya temperamen keras tapi sabar, bicara apa adanya,   konsisten  dan hati yang lembut, seperti kata istri saya bahwa orang yang  berwajah Bima tapi berhati Arjuna.
          Buku ini bukan buku ilmiah, tapi buku hiburan untuk menghibur hati yang galau melihat kondisi Unram.  Jika mau  membaca buku saya yang serius silkahkan beli di Toko Gramedia dengan judul “   Pengantar Metode Penelitian Hukum ( Penerbit Rajawali Pesada Jakarta),  Buku Hukum Kepailitan (Penerbit Rajawali Persada), Buku Hukum Perburuhan ( Penerbit Rajawali Jakarta),  Buku  Pengantar Ilmu Hukum ( Pt RajaGrafindo Jakarta),  Buku Pengantar Tata Hukum Indonesia ( PT Rajagrafindo Jakarta), Buku Hukum Dagang ( PT RagaGrafindo Jakarta).  
Jadi  saya ini bisa diajak serius bisa diajak santai.   Diajak berantem Oke, Diajak Damai  boleh.
          Diajak  berantem  untuk membela kebenaran itulah ajaran perguruan karate saya aliran  Ishikawa Karatedo “ yang menempa saya sampai memperoleh sabuk coklat dibawah doktrin yang mulia gurus besar karatedo nasional “ Almarhum Suhardi “.
          Di ajak damai  juga   Oke   karena damai itu indah, itulah kata petuah dari guru spiritual saya “ Tuan Guru KH Hulaimi Umar dan Tuan Guru Suhaili Umar , dan Guru Tarekat Naksabandiyah saya Syeh Yasin.
          Terima kasih untuk semuanya dan atas semuanya.